Nasional

Keluarga Jurnalis Hilang di Selat Sunda Berharap Pencarian Dilanjutkan

Keluarga rombongan jurnalis yang hilang kontak di perairan Selat Sunda mendapat dukungan moril dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Keluarga Jurnalis Hilang di Selat Sunda Berharap Pencarian Dilanjutkan
Keluarga rombongan jurnalis yang hilang kontak di perairan Selat Sunda mendapat dukungan moril dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

fin.co.id - Keluarga rombongan jurnalis yang hilang kontak di perairan Selat Sunda mendapat dukungan moril dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Dukungan tersebut disampaikan langsung oleh pejabat Komdigi yang akrab disapa Ibu Titi saat mengunjungi kediaman keluarga korban.

Kunjungan itu disambut baik Rodiyah Nasution, istri Yudistiro Pranoto, salah satu jurnalis yang hingga kini belum diketahui keberadaannya. Ia mengapresiasi perhatian dan dukungan yang diberikan kepada keluarga.

"Ya terkait kunjungannya Ibu Titi, alhamdulillah saya berterima kasih Ibu Titi sudah datang ke sini mendoakan kami, memberikan support secara langsung itu sangat berarti buat keluarga kami. Tidak hanya dari Ibu Titi tapi doa-doa dari semua rekan-rekan juga sangat berarti," ujar Rodiyah saat ditemui wartawan, Rabu, 23 September 2026.

Rombongan yang hilang tersebut berjumlah delapan orang. Lima di antaranya merupakan jurnalis, yakni M Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro dari iNews, Firdaus dari Anadolu Agency, serta Donal yang merupakan jurnalis freelance.

Sementara tiga orang lainnya merupakan kru kapal KM Arupadatu I. Rombongan dilaporkan hilang kontak sejak 7 September 2026 ketika menjalankan tugas jurnalistik untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Tim SAR Gabungan sebelumnya telah melakukan pencarian secara intensif selama 10 hari. Operasi pencarian resmi dihentikan di Posko Carita, Pandeglang, Banten, pada Kamis, 17 September 2026.

Perkembangan baru muncul setelah tim menemukan satu jenazah di perairan Pulau Enggano, Bengkulu. Setelah dilakukan pemeriksaan DNA, jenazah tersebut teridentifikasi sebagai salah satu anak buah kapal (ABK) yang berada di kapal pengangkut rombongan.

Temuan tersebut membuat keluarga kembali berharap operasi pencarian terhadap korban lainnya dapat dilanjutkan.

"Terkait jenazah tentunya sebagai keluarga, besar banget harapan kami setelah adanya temuan ini akan ada upaya pencarian lanjutan, agar kami sebagai keluarga bisa mendapatkan kepastian yang terbaik dari suami kami dan suami jurnalis lainnya," harapnya.

Rodiyah mengatakan keluarga sebenarnya telah menerima informasi awal mengenai penemuan jenazah tersebut ketika masih berada di posko pencarian. Namun, identitas korban baru dapat dipastikan setelah proses pemeriksaan DNA selesai.

"Ini memang sudah diinfokan sebelumnya terkait temuan satu korban ini ke pihak keluarganya. Kalau temuan saat masih di sana saya masih berada di sana memang sudah ada info mengenai temuan, namun harus dikonfirmasi dulu tes DNA dari pihak keluarga masing-masing. Jadi sudah tahu sebelumnya hanya menunggu hasil tes DNA yang kabarnya akan diinfokan sekitar dua minggu, namun alhamdulillah ini sudah bisa lebih cepat," jelasnya.

Setelah operasi SAR resmi dihentikan, keluarga mengatakan saat ini hanya dapat melanjutkan ikhtiar melalui doa sembari menunggu perkembangan lebih lanjut mengenai keberadaan para korban.

"Kalau dari kami cuma satu, ikhtiar kami cuma berdoa saja, nggak bisa banyak melakukan. Kami dari pihak keluarga tentu saja ingin mendoakan tidak hanya suami saya tapi keseluruhan dari rombongan yang hilang bisa segera mendapatkan kabar yang terbaik," tutupnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria menyatakan pihaknya turut membantu upaya pencarian rombongan tersebut. Komdigi melacak jejak sinyal seluler terakhir yang terdeteksi di sekitar Pulau Sebesi, Selat Sunda, kemudian meneruskan data tersebut kepada Basarnas untuk ditindaklanjuti.

Mohammad Luthfi/Disway

Berita Terkait