Detik-Detik G30S/PKI pada Malam 30 September 1965, Saat Jakarta Mulai Bergerak
Dalam narasi sejarah pada masa Orde Baru, peristiwa itu disebut sebagai G30S/PKI.
Sementara itu, situasi di pusat Jakarta mulai berubah. Pasukan yang mendukung gerakan menguasai sejumlah titik strategis, termasuk kawasan sekitar Lapangan Merdeka dan fasilitas komunikasi.
Pada pagi 1 Oktober, Letkol Untung Syamsuri yang ketika itu memimpin pasukan dari Batalyon 454/Banteng Raiders mengumumkan melalui Radio Republik Indonesia bahwa telah terjadi gerakan untuk menyelamatkan Presiden Sukarno dari kelompok jenderal yang disebut sebagai Dewan Jenderal.
Namun, gerakan tersebut tidak berlangsung lama.
Soeharto Mengambil Alih Kendali
Baca Juga
Mayjen Soeharto, yang saat itu menjabat Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad), mengambil alih kendali operasi militer untuk menghadapi gerakan tersebut.
Pasukan yang berada di sekitar Lapangan Merdeka kemudian berhasil dikendalikan. Dalam waktu relatif singkat, pasukan yang sebelumnya menguasai sejumlah lokasi strategis meninggalkan posisi mereka.
Pada 1 Oktober malam, pasukan pemerintah telah mengambil kembali sejumlah fasilitas penting di Jakarta.
Jenazah para perwira yang dibunuh kemudian ditemukan pada 4 Oktober 1965 di sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya. Keesokan harinya, jenazah mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Apa yang Terjadi Setelahnya?
Kegagalan G30S kemudian diikuti perubahan besar dalam politik Indonesia. PKI dituduh sebagai pihak yang berada di balik gerakan tersebut dan kemudian dibubarkan serta dinyatakan sebagai organisasi terlarang.
Baca Juga
Penangkapan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang dituduh berkaitan dengan PKI berlangsung di berbagai daerah. Jumlah korban dalam kekerasan politik 1965-1966 masih menjadi persoalan sejarah yang diperdebatkan, dengan berbagai penelitian memberikan perkiraan berbeda.
Peristiwa G30S juga menjadi salah satu titik penting yang mengubah peta kekuasaan Indonesia. Soeharto secara bertahap memperoleh kekuasaan yang lebih besar, sementara posisi politik Presiden Sukarno semakin melemah.
Pada 11 Maret 1966, Presiden Sukarno menandatangani Surat Perintah Sebelas Maret atau Supersemar yang kemudian menjadi salah satu tahapan penting dalam peralihan kekuasaan kepada Soeharto.
Rangkaian peristiwa tersebut akhirnya membawa Indonesia memasuki era Orde Baru.
Peristiwa tersebut menjadi titik balik sejarah Indonesia yang dampaknya terasa dalam politik, militer, dan kehidupan sosial masyarakat selama puluhan tahun berikutnya. *