Nasional

Ternyata Ini 6 Pemicu Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan Commuter Line di Bekasi, Temuan KNKT Bikin Kaget

Faktor-faktor itu mencakup persoalan persinyalan, komunikasi dalam kondisi darurat, koordinasi antarpetugas pengendali perjalanan kereta api hingga prosedur pengereman.

Ternyata Ini 6 Pemicu Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan Commuter Line di Bekasi, Temuan KNKT Bikin Kaget
Tabrakan antara KRL Commuter Line dan KA Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. (Ist)

fin.co.id -  Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan Commuter Line di wilayah Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada 27 April 2026 lalu ternyata tidak disebabkan oleh satu faktor saja.

Hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap enam faktor yang berkontribusi terhadap kecelakaan tersebut. Faktor-faktor itu mencakup persoalan persinyalan, komunikasi dalam kondisi darurat, koordinasi antarpetugas pengendali perjalanan kereta api hingga prosedur pengereman.

Dalam laporan investigasinya, KNKT menjelaskan faktor yang berkontribusi merupakan tindakan, kondisi, kejadian, atau kombinasi dari hal-hal tersebut yang apabila dihilangkan atau dihindari dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan maupun tingkat keparahannya.

"Faktor yang berkontribusi merupakan tindakan, kondisi, kejadian, atau kombinasi dari hal – hal tersebut yang apabila dihilangkan, dihindari, atau tidak ada, akan mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan atau mengurangi tingkat keparahan dari kecelakaan," tulis laporan KNKT dikutip di Jakarta, Selasa.

Berikut enam faktor yang ditemukan dalam investigasi KNKT:

1. Hazard pada hubungan persinyalan tidak teridentifikasi

KNKT menemukan kondisi hazard pada hubungan persinyalan antara Stasiun Bekasi dan Stasiun Bekasi Timur tidak teridentifikasi sejak tahap perancangan hingga pengoperasian.

Saat kejadian, KA 4B berjalan langsung dari Jalur III Stasiun Bekasi melalui Sinyal Keluar J12 yang menunjukkan aspek hijau. Setelah itu, KA 4B menghadapi Sinyal Blok B104 yang menunjukkan aspek merah karena masih terdapat KA 5568A di Stasiun Bekasi Timur pada track 104BT.

Masalahnya, sebelum menghadapi sinyal merah tersebut, masinis KA 4B tidak memperoleh sinyal dengan aspek kuning yang seharusnya menjadi informasi bahwa sinyal berikutnya menunjukkan aspek merah.

Kondisi tersebut tidak teridentifikasi dalam review desain maupun pengujian setelah perubahan layout Stasiun Bekasi pada 2021.

Dokumen review desain 2022 menggambarkan hubungan persinyalan dari satu sinyal ke sinyal lainnya tanpa memperhitungkan status okupasi track. Akibatnya, perbedaan perilaku Sinyal Keluar J12 terhadap kondisi track 104AT dan 104BT tidak tergambarkan.

Kondisi tersebut akhirnya tidak teridentifikasi mulai dari tahap review desain, pengujian, pengoperasian hingga kecelakaan terjadi.

2. Komunikasi darurat bermasalah

Faktor kedua berkaitan dengan komunikasi saat kondisi darurat.

Saat masinis KA 5181B melaporkan kejadian tabrakan di JPL 86 kepada PPKP Selatan, komunikasi dilakukan melalui panggilan individual dengan menekan tombol PTT pada microphone, bukan melalui panggilan emergency.

Berita Terkait