IHSG Menguat 0,30 Persen, Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed Mulai Mereda
IHSG menguat 0,30 persen ke 6.055,16 mengikuti bursa Asia di tengah berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
fin.co.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan Senin, 5 Oktober 2026 di zona hijau. Pergerakan tersebut sejalan dengan penguatan bursa kawasan Asia setelah ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan The Fed pada pertemuan Oktober 2026 mulai berkurang.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG bertambah 18,27 poin atau 0,30 persen ke posisi 6.055,16. Penguatan juga terlihat pada kelompok 45 saham unggulan melalui Indeks LQ45 yang naik 1,90 poin atau 0,32 persen ke posisi 597,36.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata memperkirakan IHSG memiliki sejumlah level yang perlu diperhatikan investor.
“Jika IHSG kembali menguat, IHSG menguji 6.095, kemudian 6.111- 6.121. Sebaliknya jika kembali melemah, IHSG rentan kembali support 5.979 atau 5.973 dan break level tersebut dapat membuka ruang penurunan menuju 5.898,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata.
Baca Juga
Data Ekonomi AS Redam Ekspektasi Kenaikan Bunga
Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed salah satunya berkaitan dengan data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS). Liza mengatakan data NonFarm Payrolls (NFP) AS hanya bertambah 29.000 pada September 2026, jauh di bawah ekspektasi sebesar 90.000. Data dua bulan sebelumnya juga mengalami revisi turun.
"Kondisi tersebut mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat, sehingga saham-saham sensitif terhadap suku bunga mendapat dukungan,” ujar Liza.
Selain data NFP, investor merespons positif penurunan harga minyak mentah global. Kondisi tersebut membantu meredakan tekanan inflasi.
Meski demikian, pasar masih menunggu arah kebijakan bank sentral AS menjelang pertemuan Oktober 2026.
“Fokus selanjutnya tertuju pada arah kebijakan The Fed menjelang pertemuan Oktober (2026), ketika pasar masih melihat peluang kenaikan suku bunga yang cukup tinggi,” ujar Liza.
Baca Juga
Risiko Timur Tengah dan Kebijakan BI Jadi Perhatian
Di tengah membaiknya sentimen pasar, risiko geopolitik masih tinggi akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. AS dilaporkan mengerahkan kelompok tempur kapal induk ketiga ke kawasan tersebut bersama pasukan amfibi yang membawa sekitar 2.000 Marinir.
Presiden AS Donald Trump juga mengisyaratkan kemungkinan akan melanjutkan serangan terhadap Iran setelah Pemilihan Umum (Pemilu) selama November 2026.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) tetap memprioritaskan stabilitas Rupiah di tengah kondisi suku bunga global yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama (higher for longer) tanpa menaikkan BI-Rate.
BI juga memberikan insentif berupa pengurangan biaya hedging untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus menarik modal asing. Sejak diberlakukan pada September 2026, kebijakan tersebut telah dimanfaatkan untuk sekitar 7 miliar dolar AS capital inflow.