Nasional . 09/10/2026, 06:20 WIB

Cerita Kapten Ashari yang 5 Bulan Disandera Pembajak Somalia, Akui Masih Trauma

Penulis : Afdal Namakule  |  Editor : Afdal Namakule

Sementara itu, kru lainnya tidak mendapatkan kesempatan untuk menghubungi keluarga melalui telepon maupun panggilan video.

Kondisi tersebut semakin menyedihkan ketika salah satu kru meninggal dunia sekitar empat bulan setelah penyanderaan dimulai. Kru tersebut tidak pernah mendapat kesempatan berkomunikasi dengan keluarganya selama berada dalam penahanan.

Di tengah keterbatasan itu, Ashari berusaha menjaga mental anak buahnya agar tidak menyerah. Ia menyadari bahwa tuntutan uang tebusan yang diajukan perompak sangat besar, sementara persediaan makanan dan minuman semakin menipis.

"Semangatlah yang bisa tenangkan kami. Karena, kami pikir tebusannya bukan uang sedikit. Sempat memang tidak ada komunikasi dari pemerintah, dari NGO-nya Pakistan. Hidup kami di kapal kritis, makanan dan minuman sudah kritis."

Ashari mengaku sempat berpikir bahwa dirinya dan para kru mungkin tidak akan pernah kembali ke rumah. Namun, ia memilih menyimpan ketakutan tersebut agar tidak membuat anak buahnya semakin terpuruk.

"Saya merasa mungkin sampai di sini hidup kami. Mungkin sampai di sini perjuangan kami. Cuma saya tidak berani bilang sama anggota. Saya yakinkan, Insyaallah kita pulang. Makanya di situ beratnya, ketika ada yang meninggal. Tapi karena kita saling menguatkan dan pasrah hanya kepada Allah," ucapnya lagi.

Selain menghadapi keterbatasan makanan, air, dan komunikasi, para sandera juga dibayangi tuntutan uang tebusan dari para perompak.

Ashari menyebut, pada awalnya para pembajak meminta tebusan sebesar 7 juta dolar Amerika Serikat untuk membebaskan seluruh sandera. Menurut dia, angka tersebut tidak masuk akal jika dibandingkan dengan nilai kapal dan muatan minyak yang diangkut.

Ia bahkan sempat berdebat dengan para perompak untuk menjelaskan bahwa tuntutan tersebut sulit dipenuhi.

"Saya sempat bertengkar, berargumen sama mereka, saya bilang itu mustahil. Saya jelaskan, kapal ini cuma muat segini minyaknya, harga minyak segini, harga kapal segini, itu tidak logis, tidak bakal ada yang bisa kau dibayar. Biar satu tahun, tiga tahun tidak bakalan dibayar," katanya menirukan.

Dalam proses negosiasi, permintaan tebusan tersebut kemudian turun secara bertahap, dari 7 juta dolar menjadi 4 juta dolar, lalu 3 juta dolar, 2 juta dolar, hingga akhirnya mencapai 1,5 juta dolar AS.

Ashari mengaku tidak mengetahui secara pasti pihak negara mana yang akhirnya memenuhi tuntutan tersebut. Ia hanya mengetahui ada dua orang yang dikirim untuk membantu proses pembebasan, yakni Leslie dari Inggris yang menangani negosiasi uang serta seorang lainnya yang menyediakan bantuan medis dan makanan.

"Alhamdulillah mereka mengerti, mereka paham. Sampai diturunkan habis 1,5 juta dolar. Tapi saya tidak tahu pihak negara mana penuhi atau tidak, karena ada dua orang dikirim. Pertama itu namanya Leslie dari Inggris bagian negosiasi masalah uang. Dan satu lainnya menyediakan *medical assistance* sama makanan," katanya menambahkan.

Kini, setelah berhasil kembali ke Tanah Air, Ashari masih berusaha memulihkan kondisi mentalnya. Kebebasan yang diperolehnya menjadi kebahagiaan tersendiri, tetapi kehilangan dua anak buah kapal dan pengalaman menyaksikan kekerasan selama penyanderaan membuatnya belum siap menentukan langkah untuk kembali melaut. *

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com