Nasional

Cerita Kapten Ashari yang 5 Bulan Disandera Pembajak Somalia, Akui Masih Trauma

Ashari mengaku belum bisa memastikan kapan akan kembali berlayar. Ingatan tentang peristiwa yang dialaminya, terutama saat menyaksikan salah satu anak buah kapal (ABK) ditembak hingga meninggal dunia, masih membekas dalam pikirannya.

Cerita Kapten Ashari yang 5 Bulan Disandera Pembajak Somalia, Akui Masih Trauma
Korban sandera perompak Somalia Kapten Kapal MT Hanour 25 Ashari Samadikun (kiri) bersama orang tuanya. ANTARA/Darwin Fatir.

fin.co.id - Kapten kapal MT Hanour 25, Ashari Samadikun, akhirnya bisa kembali ke Indonesia setelah lima bulan disandera perompak Somalia. Meski bersyukur dapat berkumpul kembali dengan keluarga, pengalaman selama penyanderaan masih meninggalkan trauma mendalam baginya.

Ashari mengaku belum bisa memastikan kapan akan kembali berlayar. Ingatan tentang peristiwa yang dialaminya, terutama saat menyaksikan salah satu anak buah kapal (ABK) ditembak hingga meninggal dunia, masih membekas dalam pikirannya.

"Saya bisa pending dulu (pertimbangkan berlayar). Masih memperbaiki (perasaan), karena sampai sekarang saya belum bisa (memutuskan). Saya masih terpikirkan keluarga kru saya, terbayang-bayang kru saya, karena saya lihat dengan mata kepala (ditembak)," tutur Ashari di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis 8 Oktober 2026.

Ashari menjadi salah satu korban penyanderaan di kapal MT Hanour 25 sejak 21 April hingga dibebaskan pada 29 September 2026. Selama hampir lima bulan, ia bersama belasan kru lainnya harus bertahan dalam kondisi yang semakin sulit.

Sebagai kapten kapal, Ashari tidak hanya berjuang menyelamatkan diri, tetapi juga berusaha menjaga semangat seluruh kru. Namun, kebahagiaan atas kebebasan yang akhirnya mereka dapatkan harus bercampur dengan kesedihan karena dua anak buahnya tidak bisa kembali ke keluarga.

"Itu yang saya sangat sedih. Semoga kita semua bisa pulang dengan selamat. Tapi Allah SWT berkehendak. Ada dua kru saya tidak bisa pulang, itu yang buat saya sampai sekarang masih terpukul," tuturnya.

Salah satu kenangan paling menyakitkan bagi Ashari adalah saat kokinya meminta pertolongan sebelum meninggal dunia. Dalam kondisi tersebut, sang koki sempat memanggilnya dan menyampaikan permohonan agar tetap bertahan hidup.

Ia masih mengingat pesan yang disampaikan dalam bahasa Inggris tersebut, yang berarti meminta kapten untuk menolongnya, tidak pergi meninggalkannya, dan tetap kuat.

Peristiwa itu menjadi salah satu pengalaman yang sulit dilupakan Ashari, terlebih ia menyaksikannya secara langsung selama masa penyanderaan.

Selama lima bulan berada di tangan perompak, kondisi para sandera semakin memprihatinkan. Memasuki bulan ketiga, komunikasi terputus, persediaan makanan menipis, dan sejumlah generator mengalami kerusakan hingga tidak dapat berfungsi.

"Selama lima bulan, kami berada di atas kapal itu. Tertekan, terutama mental. Kami putus asa itu di bulan ketiga. Di bulan itu tidak ada lagi telepon, tidak ada lagi komunikasi sama sekali. Makanan sudah habis, alat generator sudah rusak semua, (peralatan) mati," ucapnya.

Situasi semakin berat ketika mesin produksi air tawar mengalami kerusakan. Mereka beberapa kali mengganti mesin agar kebutuhan air tetap terpenuhi.

"Tapi alhamdulillah, kami berdoa, kami cari jalan, Alhamdulillah ada jalan (mesin menyala)," ujarnya.

Di kediamannya di Dusun Moncongloe, Desa Paccellekang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Ashari menceritakan bahwa keterbatasan komunikasi menjadi salah satu beban terbesar selama penyanderaan.

Menurut dia, para perompak hanya memberikan akses panggilan video kepada dirinya. Komunikasi itu digunakan untuk menyampaikan kabar ke Indonesia dan negara lain, sekaligus memberi tahu keluarga bahwa ia masih hidup.

Berita Terkait