Politik

174 Ribu Warga Terserang ISPA Akibat Karhutla, DPR Desak Pemerintah Gerak Cepat

Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat menjadi perhatian Komisi IX DPR RI.

174 Ribu Warga Terserang ISPA Akibat Karhutla, DPR Desak Pemerintah Gerak Cepat
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini. Foto: Dok FraksiGolkar

fin.co.id - Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat menjadi perhatian Komisi IX DPR RI. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini meminta pemerintah meningkatkan kesiapan layanan kesehatan untuk menangani warga yang terdampak kabut asap.

Menurut Yahya, fasilitas kesehatan perlu mengoptimalkan sistem triase agar pasien memperoleh penanganan sesuai tingkat keparahan kondisi yang dialami. Langkah ini dinilai penting, terutama ketika masyarakat terus terpapar asap dalam jangka waktu panjang.

“Kabut asap yang berkepanjangan memerlukan penanganan kesehatan yang mengikuti lama dan tingkat paparan masyarakat,” kata Yahya, Selasa, 13 Oktober 2026.

Dia menekankan pentingnya mendeteksi warga yang mengalami paparan asap berulang, memberikan pertolongan medis sejak dini, serta memastikan pasien dengan kondisi kesehatan yang memburuk memperoleh perawatan lanjutan.

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan sebanyak 174.694 warga mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat karhutla selama Agustus hingga 21 September 2026. Dari total tersebut, 40.363 kasus di antaranya dialami balita.

Angka tersebut berasal dari tujuh provinsi yang menjadi wilayah prioritas penanganan karhutla, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Merespons besarnya jumlah kasus gangguan pernapasan, Yahya mendorong Kemenkes memperkuat koordinasi dengan dinas kesehatan daerah. Koordinasi tersebut diperlukan agar informasi mengenai kualitas udara dapat disesuaikan dengan kesiapan fasilitas dan tenaga medis.

Daerah dengan tingkat paparan asap tinggi, menurut dia, perlu mendapatkan dukungan tambahan berupa tenaga kesehatan, persediaan obat dan perlengkapan medis, serta layanan rujukan sesuai kebutuhan masyarakat.

Selain itu, warga harus memperoleh informasi yang jelas mengenai langkah perlindungan dari kabut asap dan lokasi fasilitas kesehatan yang dapat memberikan pertolongan.

“Pelayanan kesehatan harus siap mengikuti perubahan keadaan, termasuk ketika paparan berlangsung lebih lama,” ujarnya.

Korban Jiwa dan Kecelakaan Akibat Kabut Asap Jadi Sorotan

Yahya mengingatkan bahwa dampak karhutla tidak hanya berupa gangguan kesehatan, tetapi juga dapat berujung pada kematian, baik akibat masalah pernapasan maupun kecelakaan yang dipicu terbatasnya jarak pandang.

Berdasarkan laporan Kemenkes per 9 September 2026, terdapat empat orang yang meninggal dunia akibat karhutla. Tiga korban berasal dari Kalimantan Tengah, sedangkan satu korban lainnya berasal dari Kalimantan Barat.

Gangguan pernapasan akut, termasuk ISPA dan sesak napas, menjadi salah satu penyebab kematian yang dilaporkan.

Di luar persoalan kesehatan, kabut asap juga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas karena jarak pandang pengendara berkurang secara signifikan.

Berita Terkait