Houthi Serang Istana Kepresidenan Yaman, 5 Orang Tewas dan 16 Terluka
Menteri Informasi Yaman Moammar al-Eryani mengatakan lima rudal balistik menghantam kompleks istana. Perdana Menteri Shaya Zindani bersama sejumlah menteri lainnya dilaporkan selamat dari serangan tersebut.
Pemerintah Iran belum memberikan tanggapan langsung atas tuduhan tersebut. Sebelumnya, Teheran membantah memasok senjata kepada Houthi dan menyatakan dukungannya sebatas dukungan politik.
Menteri Luar Negeri Iran juga menyatakan kesiapan negaranya untuk memberikan "bantuan apa pun yang diperlukan guna memfasilitasi dimulainya perundingan" antara Arab Saudi dan kelompok Houthi.
Perang Yaman Picu Pengungsian dan Korban Jiwa
Konflik di Yaman telah berlangsung sejak 2014, ketika kelompok Houthi menggulingkan pemerintahan yang diakui secara internasional dari Sanaa. Perang semakin meluas pada 2015 setelah koalisi negara-negara Arab pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi untuk memulihkan pemerintahan tersebut.
Gencatan senjata informal yang bertahan selama empat tahun mulai melemah pada Juli. Saat itu, Houthi mengumumkan "embargo maritim" terhadap Arab Saudi dan melancarkan serangan rudal serta pesawat nirawak ke bandara, fasilitas minyak, dan kapal tanker Saudi di Laut Merah.
Baca Juga
Houthi mengklaim tindakan tersebut sebagai balasan atas blokade Arab Saudi terhadap wilayah yang mereka kuasai serta serangan udara di Bandara Sanaa yang mereka tuduhkan kepada kerajaan itu.
Ketegangan kembali meningkat pada September setelah Houthi menguasai sebagian wilayah pesisir Laut Merah di barat daya Yaman, dekat Selat Bab al-Mandab. Jalur tersebut merupakan salah satu rute penting bagi pelayaran global.
Pergerakan kelompok Houthi di kawasan itu turut memicu kenaikan harga minyak, di tengah konflik selama enam bulan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Pekan sebelumnya, pasukan pro-pemerintah Yaman menyatakan berhasil merebut kembali wilayah yang menghadap Selat Bab al-Mandab melalui serangan balik besar-besaran dengan dukungan serangan udara Arab Saudi.
Dampak perang terus membebani warga sipil. Menurut Kementerian Kesehatan pemerintah Yaman, sedikitnya 1.282 orang tewas dan 5.890 lainnya terluka dalam pertempuran sejak 6 Agustus.
Baca Juga
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga melaporkan sekitar 201.000 orang terpaksa mengungsi. Selain itu, kasus dugaan kolera mengalami peningkatan yang mengkhawatirkan di tengah konflik berkepanjangan tersebut. *