Ekonomi

IHSG Anjlok 3,64 Persen ke Level 4.996: Tekanan MSCI dan Sentimen Global Bebani Bursa

IHSG melemah 3,64 persen ke level 4.996,61 akibat sentimen MSCI, tekanan saham teknologi Asia, dan kenaikan harga minyak dunia.

IHSG Anjlok 3,64 Persen ke Level 4.996: Tekanan MSCI dan Sentimen Global Bebani Bursa
IHSG melemah 3,64 persen ke level 4.996,61 akibat sentimen MSCI.

fin.co.id - Tekanan jual di pasar saham Indonesia berlanjut hingga penutupan perdagangan Senin, 19 Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 188,50 poin atau 3,64 persen ke level 4.996,61, seiring kekhawatiran investor terhadap rencana perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan tekanan dari pasar global.

Indeks LQ45 yang mencakup 45 saham unggulan juga melemah 20,10 poin atau 3,95 persen ke posisi 488,46. Pelemahan IHSG berlangsung sejak pembukaan perdagangan dan berlanjut hingga sesi pertama berakhir. Pada sesi kedua, indeks tetap berada di zona merah sampai penutupan.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico menjelaskan, tekanan jual yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut mencerminkan sikap investor yang menghindari aset berisiko.

"IHSG melanjutkan pelemahan untuk hari ketiga berturut-turut sekaligus. Tekanan jual berlanjut seiring investor menghindari aset berisiko di tengah rencana MSCI untuk mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia," ujar Nico.

Sentimen MSCI dan Kebijakan Bursa Tekan IHSG

Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada pengumuman MSCI yang membuka konsultasi mengenai perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia. Perkembangan tersebut turut memengaruhi keputusan investor dalam bertransaksi saham.

Pada Senin (19/10), Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan penurunan batas auto rejection menjadi 7 persen dari sebelumnya 15 persen. Kebijakan tersebut berlaku hingga akhir tahun guna membantu investor mengambil keputusan.

Sebelumnya, pada Jumat (16/10), otoritas pasar modal menjatuhkan sanksi denda administratif dengan nilai total Rp2,1 triliun kepada sejumlah pihak. Sanksi itu berkaitan dengan praktik perdagangan terkoordinasi dan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) tiga perusahaan.

Meski terdapat langkah dari otoritas pasar modal, tekanan jual tetap mendominasi perdagangan saham pada Senin. Kondisi tersebut tercermin dari jumlah saham yang melemah jauh lebih banyak dibandingkan saham yang menguat.

Saham Teknologi dan Kenaikan Harga Minyak Bebani Pasar Global

Tekanan terhadap IHSG juga berlangsung di tengah pergerakan bursa Asia yang didominasi pelemahan. Saham teknologi kembali tertekan seiring meningkatnya keraguan investor terhadap tren investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

"Investor semakin mempertanyakan apakah besarnya belanja infrastruktur AI akan menghasilkan imbal hasil yang memadai," ujar Nico.

Selain perkembangan saham teknologi, pasar global menghadapi ancaman kenaikan inflasi setelah harga minyak dunia menembus 105 dolar AS per barel. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan Eropa Timur turut membuat harga minyak bertahan pada level tinggi.

Sementara itu, Ketua The Fed Kevin Warsh yang cenderung dovish mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober 2026.

Dalam pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok pada Jumat (16/10), Warsh tidak memberikan sinyal mengenai hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan ini. Namun, ia menyatakan bahwa inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan belum mengubah penilaiannya terhadap perekonomian Amerika Serikat (AS).

Berita Terkait