Nasional

Cegah Keracunan MBG, BGN Targetkan 10.000 Dapur Terapkan Sistem Prasmanan

BGN menargetkan 5.000 hingga 10.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menerapkan metode Makan Bergizi Gratis (MBG) prasmanan hingga akhir 2026.

Cegah Keracunan MBG, BGN Targetkan 10.000 Dapur Terapkan Sistem Prasmanan
Kepala BGN, Sudaryono

fin.co.id - Badan Gizi Nasional (BGN) menargetkan 5.000 hingga 10.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menerapkan metode Makan Bergizi Gratis (MBG) prasmanan hingga akhir 2026.

Penerapan metode ini ditujukan untuk menekan risiko insiden keamanan pangan, termasuk keracunan dan makanan rusak, sekaligus memastikan makanan disajikan dalam kondisi hangat dan sesuai kebutuhan gizi siswa.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan, uji coba metode MBG prasmanan telah dilakukan di 66 dapur. BGN berencana memperluas penerapannya ke sekitar 230 dapur tambahan.

Menurut Sudaryono, hasil pelaksanaan tahap awal menunjukkan perkembangan positif karena belum ditemukan kasus keracunan dalam uji coba tersebut.

“Target saya adalah sampai dengan akhir tahun, untuk mengurangi keracunan, makanan-makanan rusak, gangguan kesehatan, dan paling diminati oleh siswa ini, maka kami berharap sampai dengan akhir tahun, kita bisa implementasi MBG Prasmanan ini 5.000 sampai dengan 10.000 dapur sudah bisa mengimplementasikan ini,” kata Sudaryono dalam keterangannya, Jumat, 30 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, metode prasmanan yang dikembangkan BGN tidak mengharuskan seluruh siswa berkumpul di satu tempat untuk mengambil makanan. Sebaliknya, makanan dibawa dan disajikan langsung di masing-masing kelas sesuai jumlah siswa.

Dengan sistem tersebut, makanan diharapkan dapat langsung dikonsumsi dalam kondisi hangat tanpa perlu dipanaskan kembali di sekolah.

“Kalau di kelas ada 30 orang, dia bawa 30 porsi nasi, sayur, lauk, ditaruh di kelas, dia sajikan, dia makan, dia beresin, kemudian selesai. Jadi hangat-hangat, enggak perlu diangetin karena dibawanya hangat-hangat, dijaga suhunya di 60 derajat minimal,” kata Sudaryono.

Selain menjaga suhu makanan, sistem ini memungkinkan siswa mengambil tambahan makanan apabila masih lapar, dengan tetap memperhatikan ketentuan porsi dan kebutuhan gizi.

Sudaryono mengatakan, makanan tetap disiapkan berdasarkan takaran gizi yang telah ditentukan. Namun, tersedia tambahan makanan agar siswa yang masih lapar dapat mengambil porsi tambahan sehingga makanan yang disediakan bisa dimanfaatkan secara optimal.

“Jadi orangnya dapat porsi sesuai dengan takaran gizinya tapi masih ada spare, nah spare-nya itu orang bisa, kalau masih lapar bisa nambah jadi ini, so far so good dan kami ingin ini mandatory, harus dilaksanakan seluas-luasnya terhadap semua dapur dan semua sekolah,” jelasnya.

Dalam penerapannya, BGN juga mempertimbangkan jumlah siswa dan kebutuhan fasilitas di setiap sekolah.

Untuk sekolah dengan jumlah siswa besar, misalnya mencapai 3.000 orang, dapur dapat dibangun di lingkungan sekolah. Sementara itu, sekolah dengan jumlah siswa lebih sedikit, seperti di bawah 1.000 orang, dapat dilayani melalui dapur terpusat atau central kitchen.

Sudaryono menyebut metode MBG prasmanan tersebut mengacu pada praktik penyediaan makanan di sejumlah negara, termasuk Jepang dan negara-negara Eropa.

“Ini adalah best practice yang kami belajar dari banyak negara dan beberapa negara salah satunya Jepang, kemudian ada dari Eropa juga kami lihat, caranya sama. Jadi sebetulnya ini best practice bukan karangan saya,” pungkasnya.

Berita Terkait