Megapolitan

Pramono Waspadai Potensi Banjir Besar di Jakarta Awal 2027, Normalisasi Sungai Dikebut

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengingatkan masyarakat dan seluruh jajaran pemerintah daerah untuk mewaspadai ancaman banjir besar yang berpotensi melanda Ibu Kota pada awal 2027

Pramono Waspadai Potensi Banjir Besar di Jakarta Awal 2027, Normalisasi Sungai Dikebut
Pemprov DKI Jakarta Kebut Normalisasi Ciliwung (Dokumen Istitmewa / Net)

fin.co.id – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengingatkan masyarakat dan seluruh jajaran pemerintah daerah untuk mewaspadai ancaman banjir besar yang berpotensi melanda Ibu Kota pada awal 2027. Peringatan tersebut didasarkan pada prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut curah hujan ekstrem diperkirakan mencapai puncaknya pada Februari 2027.

Menghadapi potensi tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mulai memperkuat langkah mitigasi dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk TNI dan Polri. Persiapan ini menjadi salah satu pembahasan utama dalam rapat koordinasi Forkopimda mengenai mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi musim penghujan di Balai Kota Jakarta, Kamis, 5 November 2026.

Dalam pertemuan itu, Pramono menyampaikan bahwa laporan BMKG menunjukkan adanya kemungkinan peningkatan curah hujan secara signifikan pada Februari mendatang.

“Dari laporan BMKG diperkirakan curah hujan tertinggi pada bulan Februari dan akan ada curah hujan yang ekstrem bahkan,” kata Pramono.

Ia juga mengingatkan bahwa ancaman banjir tidak hanya perlu diantisipasi pada Februari, tetapi kemungkinan dapat terjadi pada Januari maupun Juni.

"Di bulan apakah Januari atau Juni kemungkinan banjir itu besar," tambahnya.

Pramono menilai intensitas hujan yang sangat tinggi berpotensi memicu banjir dalam skala besar di sejumlah wilayah Jakarta. Terlebih, perubahan pola musim hujan akibat fenomena El Nino diperkirakan membuat periode hujan berlangsung lebih singkat, meskipun jumlah curah hujan yang turun tidak mengalami pengurangan.

“Karena curah hujannya ekstrem, yang harusnya tanpa El Nino itu biasanya mulai hujan bulan akhir Oktober ataupun awal Oktober sampai dengan Maret sudah enggak ada hujan,” katanya.

“Tetapi karena ada El Nino ini, maka curah hujannya menjadi menyempit, tapi volumenya sama. Waktunya menyempit, tapi volumenya sama,” sambungnya.

Sebagai langkah pencegahan, Pemprov DKI Jakarta menargetkan percepatan normalisasi sejumlah sungai hingga akhir Desember 2026. Program tersebut difokuskan pada beberapa aliran sungai yang dinilai penting dalam pengendalian banjir, yakni Ciliwung, Angke, Krukut, dan Cakung Lama.

Menurut Pramono, percepatan normalisasi diperlukan untuk meningkatkan kemampuan sungai dalam menampung dan mengalirkan debit air ketika hujan ekstrem terjadi. Dengan demikian, risiko luapan air saat memasuki puncak musim penghujan pada awal 2027 dapat ditekan.

Dalam pelaksanaannya, Pemprov DKI juga memperoleh dukungan pendampingan dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) untuk memastikan proses normalisasi berjalan sesuai ketentuan.

“Termasuk Pak Kajati juga menyampaikan untuk memberikan pendampingan proses normalisasi yang kita lakukan untuk beberapa sungai yang ada di Jakarta,” tuturnya.

“Sekarang ini sampai dengan bulan Desember, Pemerintah DKI Jakarta akan terus tetap untuk melakukan normalisasi sungai-sungai yang ada, apakah itu Ciliwung, Angke, Krukut, Cakung Lama, dan sebagainya akan kita kebut,” lanjut Pramono.

Ia berharap berbagai upaya tersebut dapat mengurangi risiko serta dampak banjir ketika intensitas hujan mulai meningkat pada Januari dan mencapai titik tertinggi pada Februari 2027.

Berita Terkait