Internasional . 21/04/2025, 18:05 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
Tak hanya urusan internal gereja, Paus Fransiskus juga dikenal vokal terhadap isu global. Ia mengkritik keras kapitalisme pasar bebas yang dianggap “membunuh” kaum miskin, serta aktif menyerukan aksi terhadap krisis iklim.
Pembelaannya terhadap hak migran pun mengundang kontroversi. Ia bahkan pernah menyamakan pusat penahanan migran dengan kamp konsentrasi, pernyataan yang menuai kecaman dari sejumlah kalangan konservatif.
Meski dicap progresif, Fransiskus tetap mempertahankan posisi tradisional gereja soal aborsi, pernikahan sesama jenis, dan peran perempuan dalam kepemimpinan gereja.
Sebelum menjabat sebagai paus, perannya di masa kediktatoran militer Argentina sempat diperdebatkan. Ia dituduh gagal melindungi dua imam yang diculik. Namun Vatikan membantah tuduhan itu, dan beberapa tokoh hak asasi membelanya, termasuk peraih Nobel Perdamaian Adolfo Perez Esquivel.
Sebagai paus, ia membuka arsip Vatikan untuk mengungkap pelanggaran HAM pada masa lalu dan mendorong beatifikasi bagi korban rezim militer.
Kini, dunia mengenang Paus Fransiskus sebagai pemimpin yang menantang status quo. Suaranya untuk keadilan sosial, transparansi, dan kemanusiaan telah membentuk arah baru bagi Gereja Katolik modern.
Warisan yang ia tinggalkan akan terus dikenang sebagai fondasi moral yang kuat di tengah dunia yang penuh gejolak. (Anadolu/Antara)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media