Nasional . 07/05/2025, 20:31 WIB
Penulis : Aries Setianto | Editor : Aries Setianto
Selain kontrol energi, blackout berkepanjangan berpotensi memicu instabilitas sosial. Di Indonesia, situasi politik sedang memanas: isu Jokowi's unmasked, RUU TNI, Mayday, hingga munculnya ormas baru seperti Erkules.
Bayangkan jika blackout terjadi berhari-hari di tengah kondisi seperti ini. Penjarahan, kerusuhan, dan kekerasan bisa dengan mudah diprovokasi. Dan seperti biasa, tangan-tangan tak terlihat akan mengambil keuntungan dari setiap krisis.
Fenomena blackout di Bali, Portugal, dan Spanyol mungkin baru simulasi kecil menuju skenario besar. Jika listrik dan internet bisa dimatikan sesuka hati, maka siapa pun yang mengontrolnya akan memiliki kekuasaan mutlak.
Pertanyaannya: Akankah kita membiarkan diri dijajah oleh energi? Atau justru mulai mencari kemandirian sebelum segalanya terlambat?
Semoga blackout di Bali menjadi yang terakhir. Tapi jika tidak, bersiaplah. 2030 mungkin bukan sekadar tahun—tapi awal dari pertaruhan kebebasan kita.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media