Politik . 01/06/2025, 21:15 WIB
Penulis : Khanif Lutfi | Editor : Khanif Lutfi
fin.co.id - Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP Djarot Saiful Hidayat berpesan kepada pemerintah agar tak boleh melenceng dari fakta sejarah saat menuliskan ulang sejarah nasional.
Ia berharap penulisan ulang sejarah bukan memihak kepada siapa tokoh yang menang. Ia menyebutkan penulisan sejarah perlu sesuai dengan fakta di lapangan.
"Untuk penulisan sejarah itu tolong benar-benar sesuai dengan fakta sejarah bukan 'his story' bukan story mereka yang menang, tapi betul-betul story cerita perjuangan bangsa kita ini," kata Djarot di Sekolah PDIP, Lenteng Agung, Minggu, 1 Juni 2025.
Djarot mengatakan jangan sampai penulisan ulang sejarah ditutup-tutupi. Ia meminta agar penulisan sejarah dilakukan secara terbuka.
"Janganlah kemudian sejarah itu ditutup-tutupi, janganlah sejarah itu disimpang-simpangkan. Maka kita harus benar-benar ketika ada penulisan sejarah itu harus dilajukan dengan terbuka dengan terbuka," ujar Djarot.
Diketahui, pemerintah berencana untuk menulis ulang sejarah di Indonesia.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan bahwa akan ada 11 jilid buku dari penulisan ulang sejarah di Indonesia.
Ia menjelaskan ke-11 buku yang bakal diterbitkan itu, bakal menceritakan sejarah awal mula Nusantara hingga Era Reformasi.
"Tentang buku, jilid 1 sejarah awal Nusantara. Jadi kita tidak sebut lagi prasejarah. Karena ini prasejarah ini mengacunya seolah-olah sejarah kita ini dimulai dari abad ke 4," kata Fadli dalam rapat bersama Komisi X DPR RI, Senin 26 Mei 2025.
Adapun jilid kedua bertajuk Nusantara dalam jaringan global India dan Cina. Sementara jilid ketiga yakni Nusantara dalam jaringan global Timur Tengah.
"Ini termasuk juga memasukan temuan-temuan sebagai contoh masuknya Islam ke Indonesia dengan ditemukannya situs Bongal beberapa tahun lalu di Tapanuli Tengah di Sumatera Utara ternyata Islam masuk lebih awal, dalam catatan sejarah kita Islam masuk di abad ke-13. Dengan adanya temuan di situs Bongal, ternyata islam masuk lebih awal di abad ke 7 masehi," ucap Fadli.
Ketiga yaitu terkait nusantara dalam jaringan global: Timur Tengah. Selanjutnya, interaksi dengan Barat: Kompetisi dan Aliansi
"Kita memasukan temuan-temuan sebagai contoh masuknya Islam ke Indonesia dengan ditemukannya situs Bongal beberapa tahun lalu di Tapanuli Tengah di Sumatra Utara ternyata Islam masuk lebih awal, dalam catatan sejarah kita Islam masuk di abad ke-13. Dengan adanya temuan di situs Bongal ternyata islam masuk lebih awal di abad ke 7 masehi," jelas Fadli.
Berikut rinciannya:
1. Sejarah Awal Nusantara
2. Nusantara dalam Jaringan Global: India dan Cina
3. Nusantara dalam Jaringan Global: Timur Tengah
4. Interaksi dengan Barat: Kompetisi dan Aliansi
5. Respons Terhadap Penjajahan
6. Pergerakan Kebangsaan
7. Perang Kemerdekaan Indonesia
8. Masa Bergejolak dan Ancaman Integrasi
9. Orde Baru (1967-1998)
10. Era Reformasi (1999-2024).(Anisha Aprilia)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media