Nasional . 03/07/2025, 15:31 WIB

Denny JA Merekam Sejarah dalam Tujuh Buku Puisi Esai

Penulis : Khanif Lutfi  |  Editor : Khanif Lutfi

3.Ia menghidupkan narasi yang dilupakan.

Di tengah gemuruh suara mayoritas, puisi esai memberi tempat bagi suara-suara yang nyaris punah: bisikan Lastri, tangis Lina, dan rindu yang tertinggal di meja makan eksil.

Tujuh Buku Puisi Esai Denny JA dalam Heptalogi

1.Atas Nama Cinta (2012) – Tentang cinta yang kalah oleh diskriminasi.

2.Kutunggu di Setiap Kamisan (2018) – Tentang mereka yang hilang paksa.

3.Jeritan Setelah Kebebasan (2015) – Tentang konflik berdarah pasca-reformasi.

4.Yang Tercecer di Era Kemerdekaan (2024) – Tentang mereka yang tak merdeka saat proklamasi.

5.Mereka yang Mulai Teriak Merdeka (2024) – Tentang pahlawan sebagai manusia, bukan ikon.

6.Mereka yang Terbuang di Tahun 1960-an (2024) – Tentang mereka yang kehilangan tanah air dan kampung halaman.

7.Yang Menggigil dalam Arus Sejarah (2025) – Tentang tragedi global yang membentuk nurani dunia.

“Sebab kemerdekaan sejati, seperti puisi,

adalah keberanian untuk terus mendengarkan

yang tak lagi punya suara.” Demikian dikatakan Denny JA. *

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com