Internasional . 28/07/2025, 09:10 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
fin.co.id - Lawatan singkat Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, ke Prancis baru-baru ini memicu perdebatan hangat di parlemen. Salah satu anggota Dewan Rakyat, Wan Ahmad Fayhsal Wan Ahmad Kamal, mempertanyakan kenapa pemimpin Malaysia itu tidak mendapat sambutan dari pejabat tinggi negara tuan rumah.
Dalam sidang yang digelar Senin 21 Juli 2025 lalu, Wan Ahmad Fayhsal mengingatkan bahwa sejumlah pemimpin Asia sebelumnya disambut secara istimewa di Paris, bahkan pada momen penting seperti Bastille Day. Ia membandingkan kedatangan Anwar dengan tokoh-tokoh seperti Mahathir Mohamad dan Lee Hsien Loong, serta Presiden Indonesia, Prabowo Subianto.
"1997 Tun Dr. Mahathir, 2018 Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, selang beberapa minggu 2025 Presiden Prabowo, Presiden Indonesia hadir dijemput oleh Presiden Prancis ke perarakan Hari Kebangsaan, Bastille Day. Mengapa Yang Amat Berhormat Tambun tak dijemput?" tanyanya dalam sidang tersebut.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti posisi Anwar sebagai Ketua ASEAN yang dinilainya seharusnya mendapat perhatian lebih besar dalam konteks diplomatik. Namun, menurutnya, yang terjadi justru sebaliknya.
"Berbanding dengan Prabowo, Presiden Prabowo mendapat sambutan daripada Menteri Dalam Negeri Bruno Retailleau," ungkapnya.
Ia juga menyayangkan kurangnya eksposur media terhadap kunjungan tersebut. Nama-nama besar seperti Le Figaro, Le Monde, dan Le Parisien disebut tidak memberikan pemberitaan apa pun terkait kehadiran Anwar di Paris.
Presiden Prabowo Subianto (dua kiri) dan Presiden Prancis Emmanuel Macron (tiga kanan) saling rangkul dan jabat tangan pada sela-sela parade militer Hari Bastille di Champs-Élysées, Paris, Prancis, Senin (14/7/2025).
"Jadi apakah yang Berhormat Menteri bersetuju it was a miss opportunity untuk Wisma Putra mengangkat semula diplomasi kita ke tahap kuasa besar Prancis ini? Karena kekurangan engagement yang strategic seperti yang saya katakan tadi," lanjutnya.
Menanggapi kritik tersebut, Menteri Luar Negeri Malaysia, Datuk Seri Mohamad Hasan, memberikan penjelasan bahwa lawatan Anwar sejatinya bukanlah kunjungan resmi kenegaraan. Ia menegaskan bahwa kunjungan tersebut hanya merupakan singgahan dalam perjalanan menuju Brasil untuk menghadiri KTT BRICS di Rio de Janeiro.
"Itu sebenarnya merupakan kunjungan singkat perdana menteri, dalam perjalanan ke Rio den Janeiro untuk menghadiri KTT BRICS di Brasil. Dari sisi kami di Wisma Putra, kami mencatat ada undangan yang sudah lama diterima dari Italia dan Prancis supaya perdana menteri dapat berkunjung, dan kami mengambil kesempatan itu untuk memasukkan persinggahan di negara-negara itu sebagai bagian dari perjalanan," jelas Mohamad Hasan seperti dikutip New Straits Times, Jumat 25 Juli 2025.
Walau bukan kunjungan resmi, ia menyebut bahwa Anwar tetap mendapat kehormatan militer saat tiba di Prancis. Selain itu, ia menekankan pentingnya pertemuan bilateral yang dilakukan Anwar dengan Presiden Emmanuel Macron.
"Meski demikian, pertemuan itu merupakan pertemuan yang bermakna, khususnya karena ada diskusi bilateral antara Anwar dan Macron, termasuk pertemuan empat mata," ujarnya.
Ia juga memberi jaminan bahwa bila di masa depan Malaysia mengadakan kunjungan resmi penuh ke Prancis, penyambutan akan dilakukan secara layak sesuai protokol tinggi diplomatik.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media