Nasional . 10/08/2025, 19:30 WIB

Penjual Pulsa di Ujung Tanduk: Antara Bertahan atau Menyerah

Penulis : Khanif Lutfi  |  Editor : Khanif Lutfi

fin.co.id - Selama dua dekade terakhir, kios pulsa pernah menjadi salah satu ikon usaha mikro di Indonesia. Hampir di setiap sudut kota hingga pelosok desa, papan bertuliskan Pulsa Semua Operator menjadi pemandangan umum.

Namun kini, masa kejayaan itu mulai memudar. Ribuan penjual pulsa berada di persimpangan antara bertahan atau menyerah, terhimpit oleh gempuran teknologi, margin tipis, dan persaingan yang kian brutal.

Pada awal 2010-an, penjual pulsa bisa meraih keuntungan Rp500–Rp1.000 per transaksi. Dengan jumlah pelanggan yang tinggi, omzet harian cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun kini, margin keuntungan menyusut drastis menjadi hanya Rp100–Rp300 per transaksi.

Rudi (37), penjual pulsa di pinggiran Jakarta, mengaku usahanya nyaris kolaps.

“Sekarang orang beli kuota langsung dari aplikasi e-commerce atau mobile banking. Kadang harganya malah lebih murah dari modal saya. Kalau bukan karena kebutuhan hidup, mungkin kios ini sudah tutup,” katanya.

Salah satu tantangan terbesar bagi penjual pulsa adalah sistem deposit. Untuk bisa bertransaksi, mereka harus menyetor modal awal ke distributor atau server. Besaran deposit bervariasi, mulai dari Rp1 juta hingga Rp5 juta, tergantung layanan.

Siti Rahmah (42), penjual pulsa di Tangerang, mengaku terpaksa meminjam uang ke koperasi untuk memenuhi modal deposit.

“Kalau saldo kosong, kita nggak bisa transaksi. Sementara omzet makin kecil karena pelanggan beralih ke aplikasi,” keluhnya.

Masalah makin rumit ketika sebagian penjual terjerat pinjaman online demi modal cepat, namun terperangkap bunga tinggi yang menggerus keuntungan.

Laporan Asosiasi Penjual Pulsa dan Data Seluler Indonesia (APPDI) mencatat, dalam lima tahun terakhir jumlah kios pulsa menurun hingga 45%. Penurunan ini sejalan dengan meningkatnya penetrasi aplikasi digital dan marketplace yang menjual pulsa dan paket data dengan harga mendekati atau bahkan di bawah harga modal penjual tradisional.

Menurut pemerhati UMKM, Bambang Prasetyo, persaingan ini ibarat pertandingan tak seimbang.

“Platform digital punya modal besar, bisa kasih promo dan potongan harga besar-besaran. Penjual pulsa tradisional jelas kesulitan bersaing kalau hanya mengandalkan margin jualan pulsa,” jelasnya.

Meski situasi terjepit, peluang bertahan masih ada. Para penjual pulsa didorong untuk melakukan diversifikasi layanan, seperti top up e-wallet, pembayaran tagihan listrik dan PDAM, hingga penjualan voucher game. Beberapa bahkan mulai membuka jasa transfer uang, fotokopi, hingga isi ulang air minum galon.

APPDI mendorong pemerintah membuat program pendampingan dan pelatihan digitalisasi. Skema subsidi modal atau kredit berbunga rendah juga diusulkan untuk membantu kios pulsa bertahan di era serba digital.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com