Politik . 12/08/2025, 18:44 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - Penambahan enam Kodam baru tengah menjadi sorotan publik, terutama terkait dampaknya terhadap anggaran negara. Anggota Komisi I DPR RI, Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin, menegaskan bahwa langkah ini sudah melalui kajian matang dan akan dijalankan secara bertahap agar tidak membebani keuangan negara secara langsung.
TB Hasanuddin mengungkap bahwa pada Minggu lalu ia menghadiri peresmian enam Komando Daerah Militer (Kodam) baru. Keenamnya berada di Riau, Sumatera Barat, Lampung, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, dan Papua. Menurutnya, pembentukan Kodam ini merupakan bagian dari strategi memperkuat pertahanan nasional.
Pembentukan Kodam baru hanyalah satu bagian dari pengembangan organisasi TNI. TB Hasanuddin menyebutkan adanya pembentukan 20 Brigade Infantri Teritorial yang mencakup 100 batalyon. Selain itu, Kopassus mendapatkan tambahan enam grup, Marinir ditambah lima Batalion Infantri Pendarat, serta Kopasga ditambah dua batalion, masing-masing untuk tempur dan bantuan tempur.
Terkait kekhawatiran publik mengenai beban terhadap APBN, TB Hasanuddin memastikan bahwa anggaran disesuaikan dengan kemampuan negara. "Secara keseluruhan tentu ini membutuhkan anggaran, tetapi secara bertahap. Jadi apa yang diresmikan kemarin itu nanti mungkin membutuhkan waktu sekian tahun," ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa, 12 Agustus 2025.
Ia menambahkan bahwa rincian anggaran akan disampaikan langsung oleh Presiden pada pidato kenegaraan 15 Agustus 2025, jelang peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI.
Menurut TB Hasanuddin, ada rencana peningkatan belanja pegawai dan kemungkinan pengurangan pos anggaran lain untuk menopang pengembangan ini. Saat ini, anggaran TNI berada di kisaran 0,87 persen dari PDB. Ke depan, porsi itu bisa naik menjadi di atas 1 persen, bahkan mendekati 1,5 persen.
Meski ada peningkatan struktur, ia memastikan bahwa prioritas tetap pada kesejahteraan prajurit dan penguatan sumber daya manusia. "Alutsista itu penting, tapi yang pertama adalah SDM dulu," tegasnya.
Menanggapi kekhawatiran masyarakat sipil terkait kemungkinan terganggunya kehidupan warga akibat penambahan kantor atau pos militer, TB Hasanuddin menegaskan pentingnya menjaga profesionalisme TNI. Ia mengingatkan agar TNI tidak kembali ke pola Orde Baru, di mana militer terlibat dalam politik praktis dan bisnis.
"Prajurit TNI harus tetap menjadi prajurit profesional, nasionalis, dan fokus pada pertahanan negara," ujarnya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media