Ekonomi . 22/08/2025, 19:34 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh kembali mendapat perhatian publik. Meski digadang sebagai moda transportasi modern kebanggaan Indonesia, keberadaannya justru menjadi beban berat bagi PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI pada Kamis, 21 Agustus 2025, terungkap bahwa arus kas operasional Whoosh belum mampu menutupi biaya besar yang dikeluarkan. Kondisi ini bahkan disebut sebagai “bom waktu” yang bisa meledak jika tidak segera diselesaikan lewat restrukturisasi keuangan yang tepat.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan enam program utama di tahun 2025, salah satunya restrukturisasi proyek strategis nasional (PSN).
Sejak mulai beroperasi secara komersial pada Oktober 2023, Whoosh terus menimbulkan kerugian. Pada semester I 2025, KAI mencatat rugi Rp951,48 miliar hanya dari pengoperasian Whoosh. Jika dihitung setahun penuh, nilainya diperkirakan mencapai Rp1,9 triliun.
Tak hanya itu, sepanjang 2024 KAI juga harus menanggung kerugian Rp2,69 triliun dari kepemilikannya di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), konsorsium pengelola KCJB di mana KAI memiliki saham mayoritas sebesar 58,53 persen.
Beban keuangan tersebut kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan finansial KAI.
Langkah Pemerintah dan Danantara
Untuk mengatasi persoalan ini, KAI mengusulkan restrukturisasi utang Whoosh. Bobby menyebut KAI akan berkoordinasi dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, menegaskan bahwa pemerintah sudah menyiapkan solusi melalui Danantara, bahkan telah tercantum dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025.
“Tenang saja, pemerintah melalui Danantara sudah memasukkan di RKAP 2025 soal penyelesaian Whoosh,” ucap Andre.
CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Perkasa Roeslani, menambahkan bahwa pihaknya tengah melakukan kajian serius terkait restrukturisasi utang KCJB. Ia menekankan bahwa langkah yang diambil tidak boleh hanya menunda masalah, melainkan harus menjadi penyelesaian jangka panjang.
Enam Program KAI di Tahun 2025
Selain restrukturisasi Whoosh, KAI menyiapkan lima agenda lain untuk memperbaiki kinerja:
1. Meningkatkan angkutan penumpang dengan memperluas kapasitas dan layanan.
2. Mendorong angkutan barang di Sumatra Selatan dan Jawa untuk mendukung logistik nasional.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media