Politik . 03/09/2025, 19:15 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) menerima kunjungan dari perwakilan Aliansi BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan bersama sejumlah organisasi mahasiswa lain pada Rabu, 3 September 2025. Pertemuan ini berlangsung di Ruang Abdul Muis, Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Tiga pimpinan DPR yang turut hadir dalam dialog tersebut antara lain Sufmi Dasco Ahmad (Gerindra), Cucun Ahmad Syamsurijal (PKB), dan Saan Mustofa (NasDem).
Mahasiswa Soroti Kematian Affan Kurniawan
Salah satu topik utama yang diangkat dalam audiensi adalah tuntutan agar dilakukan investigasi menyeluruh terhadap kasus meninggalnya Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang menjadi korban saat aksi demonstrasi. Affan tewas setelah tertabrak kendaraan taktis milik Brimob.
Mahasiswa menekankan pentingnya proses hukum yang adil, terbuka, dan akuntabel terhadap peristiwa tersebut. Selain itu, mereka juga meminta klarifikasi atas tuduhan makar dalam aksi sebelumnya dan mendesak adanya penyelidikan independen atas hal itu.
Kritik terhadap Tunjangan DPR
Selain soal hukum, mahasiswa juga mengkritik besarnya tunjangan yang diterima anggota DPR RI, yang mereka nilai tidak mencerminkan keprihatinan terhadap kondisi rakyat saat ini. Mereka menganggap para wakil rakyat kurang hadir dalam menyuarakan suara masyarakat.
"Bapak/Ibu seakan-akan melupakan kami yang seharusnya diwakilkan setiap pertemuan rapatnya," tegas salah seorang mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI).
Mahasiswa Bantah Tuduhan Anarkisme
Dalam kesempatan tersebut, perwakilan dari BEM Universitas Trisakti menolak tudingan bahwa mahasiswa terlibat dalam aksi anarkis saat demonstrasi.
"Kami menyuarakan pendapat kami, aspirasi kami, keluhan rakyat, jeritan rakyat dengan tindakan-tindakan anarkis," ujar Jili dalam forum, menegaskan bahwa perjuangan mereka dilakukan secara damai dan intelektual.
GMNI Desak Penanganan Dugaan Makar Secara Terbuka
Dukungan terhadap keterbukaan proses hukum juga datang dari perwakilan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Mereka mendorong agar dugaan adanya upaya makar yang sempat disebut Presiden dapat dijelaskan secara gamblang oleh pihak berwenang.
"Pidato Presiden yang menyatakan bahwa terdapat potensi makar, hal ini tentu meyakinkan saya dan mungkin kawan-kawan bahwa ada gerakan-gerakan ke sana," ujar perwakilan GMNI.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media