Ekonomi . 16/09/2025, 13:08 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,0% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan pada Rabu, 17 September 2025. Keputusan ini muncul setelah BI melakukan pemangkasan suku bunga total sebesar 125 basis poin sejak September 2024 hingga Agustus 2025, menunjukkan siklus pelonggaran moneter yang cukup agresif sepanjang setahun terakhir.
Chief Economist & Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai ruang untuk menahan suku bunga saat ini cukup besar. Menurutnya, kebijakan moneter BI yang agresif selama setahun terakhir memberi fleksibilitas bagi bank sentral untuk menstabilkan suku bunga tanpa perlu penyesuaian lebih lanjut dalam waktu dekat.
Sentimen positif ini turut mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali menguat di awal pekan. Pada perdagangan Senin, 15 September 2025, IHSG ditutup naik 1,1% ke level 7.937,1, melanjutkan reli empat hari berturut-turut. Pergerakan ini didorong oleh derasnya aliran dana asing yang mencatat net buy sebesar Rp1,05 triliun, untuk pertama kalinya dalam 13 hari terakhir setelah ketidakstabilan politik memengaruhi pasar pada akhir Agustus.
Saham-saham yang menjadi favorit investor asing antara lain PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dengan net inflow Rp308 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp219 miliar. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek pasar saham domestik, terutama di tengah stabilitas suku bunga dan sentimen global yang mendukung.
Dari sisi eksternal, pasar global memberikan sentimen positif bagi investor domestik. Ekspektasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin menjadi 4,25% pada pertemuan FOMC yang juga berlangsung pada 17 September 2025, menambah optimisme pasar. Prediksi ini mendorong aliran modal masuk ke Indonesia, seiring investor mencari peluang di pasar dengan stabilitas moneter yang lebih tinggi.
Kombinasi faktor internal dan eksternal ini menunjukkan bahwa meski BI menahan suku bunga acuan, pasar saham domestik tetap mampu menunjukkan tren penguatan. Rully Arya menekankan bahwa investor saat ini memanfaatkan momentum dari kebijakan moneter dan ekspektasi global, terutama yang terkait dengan potensi pemangkasan suku bunga di Amerika Serikat.
Pertahannya BI Rate di level 5,0% diprediksi memberikan keseimbangan antara mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas inflasi. Keputusan ini diharapkan tidak hanya menenangkan pelaku pasar, tetapi juga menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil di tengah ekspektasi investor global.
Secara keseluruhan, kombinasi sentimen positif dari aliran dana asing, optimisme pasar global, dan sikap hati-hati BI dalam menentukan kebijakan suku bunga menjadi faktor utama penguatan IHSG dan stabilitas pasar keuangan domestik. Investor kini lebih fokus pada saham-saham yang memiliki fundamental kuat dan potensi pertumbuhan di tengah kondisi ekonomi yang menantang namun stabil.
Dengan demikian, penahanan suku bunga oleh BI bukanlah langkah konservatif semata, melainkan strategi terukur untuk menjaga keseimbangan ekonomi sambil tetap membuka ruang bagi pertumbuhan pasar saham dan aliran investasi asing. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media