Hukum dan Kriminal . 01/11/2025, 15:11 WIB

KPK Minta Semua Pihak Kooperatif dalam Penyelidikan Dugaan Korupsi Proyek Kereta Cepat Whoosh

Penulis : Mihardi  |  Editor : Mihardi

fin.co.id - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengingatkan seluruh pihak yang dipanggil dalam penyelidikan dugaan korupsi proyek kereta cepat Jakarta–Bandung (KCJB) Whoosh agar bersikap kooperatif dan memberikan keterangan secara terbuka.

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo menjelaskan, keterangan dari para pihak yang mengetahui proyek tersebut dibutuhkan untuk memperjelas konstruksi dugaan tindak pidana korupsi yang tengah diselidiki.

“Kami mengimbau siapa pun yang diminta hadir dan dimintai keterangan terkait perkara KCIC agar kooperatif serta menyampaikan informasi, data, dan keterangan yang diperlukan,” ujar Budi kepada wartawan, Sabtu, 1 November 2025.

Budi tidak menjelaskan secara rinci siapa saja yang telah dipanggil, namun memastikan bahwa pihak-pihak yang dianggap mengetahui jalannya proyek akan dimintai keterangan oleh penyelidik.

“Tim penyelidik mengundang sejumlah pihak yang diduga memahami konstruksi perkara ini. Setiap informasi dan konfirmasi yang diberikan akan sangat membantu proses pengungkapan,” tambahnya.

KPK diketahui telah memulai penyelidikan atas dugaan penggelembungan dana (mark up) dalam proyek kereta cepat Whoosh sejak awal tahun 2025. Informasi ini juga dikonfirmasi oleh Pelaksana Tugas Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu.

“Saat ini sudah pada tahap penyelidikan,” kata Asep kepada wartawan, Senin, 27 Oktober 2025.

Meski demikian, Asep belum menjelaskan detail waktu dan ruang lingkup penyelidikan, dengan alasan proses tersebut masih bersifat tertutup sebagaimana lazimnya tahap awal di KPK.

Isu dugaan pembengkakan biaya proyek Whoosh sebelumnya disorot oleh mantan Menko Polhukam Mahfud MD melalui unggahan di kanal YouTube pribadinya. Ia menyoroti adanya perbedaan mencolok antara perhitungan biaya pembangunan versi Indonesia dan China.

“Menurut pihak Indonesia, biaya pembangunan per kilometer mencapai 52 juta dolar AS, sedangkan di China hanya sekitar 17–18 juta dolar AS. Selisihnya tiga kali lipat,” ujar Mahfud dalam video tersebut.

Mahfud juga menyinggung beban utang proyek yang pada 2025 diperkirakan mencapai Rp4 triliun, akibat perubahan skema pembiayaan dari tawaran Jepang berbunga 0,1 persen ke pinjaman China yang meningkat hingga 3,4 persen karena cost overrun.

Meski demikian, biaya pembangunan per kilometer Whoosh yang sekitar Rp780 miliar masih lebih rendah dibandingkan proyek MRT Jakarta yang mencapai Rp1,1 triliun per kilometer.

Mahfud mendukung langkah KPK untuk menelusuri dugaan mark up proyek tersebut. Ia menilai transparansi penting agar publik memperoleh kejelasan mengenai penggunaan dana dan sumber pembiayaan proyek strategis nasional itu.

Selain itu, ia mendukung sikap Menteri Keuangan Purbaya yang menolak pembebanan utang proyek ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), serta mendorong pemerintah mengambil kebijakan progresif agar beban utang tidak terus meningkat.

(Ayu Novita)

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com