Nasional . 10/11/2025, 21:44 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Komisi I DPR RI menyoroti potensi keterlibatan konten di media sosial (Medsos) dalam memengaruhi terduga pelaku kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono menyampaikan perkembangan digitalisasi dan pesatnya arus informasi di dunia maya menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
"Iya, sosial media, ini juga sama juga ya perkembangan digitalisasi ini, juga salah satu produknya adalah sosial media," kata Dave kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 10 November 2025.
Dave menuturkan bahwa media sosial dapat menjadi wadah positif maupun negatif, tergantung pada jenis informasi yang beredar.
"Begitu cepatnya informasi, tren, kadang benar, ada juga yang suka salah, misleading, ada juga yang apa menjadi sumber informasi yang baik, baik untuk kesehatan, baik untuk pendidikan, ataupun ilmu-ilmu baru," lanjutnya.
Ia menegaskan pentingnya pengaturan yang jelas terhadap penggunaan media sosial, agar kemajuan teknologi tidak justru berdampak buruk terhadap pembentukan karakter generasi muda.
"Ya, hal ini tentunya harus ada pengaturannya agar jangan sampai ini mengganggu perkembangan, akan tetapi harus ada juga batasannya sehingga demokrasi dan kebebasan berekspresi tetap terjaga," ucap Dave.
Selain pengaruh media sosial, Dave juga menyinggung adanya kemungkinan keterkaitan game online dengan peristiwa tersebut. Namun, ia menekankan bahwa DPR belum dapat memberikan penilaian pasti sebelum hasil investigasi akhir diumumkan.
"Kalau memang benar ini terinspirasi ataupun juga disebabkan akan sebuah gaming online ya itu kita kita kan juga sudah memiliki PP Tunas ya," ujarnya.
Menurutnya, pemerintah sebenarnya telah memiliki berbagai regulasi untuk melindungi anak-anak dari dampak negatif dunia digital.
"Ya untuk melindungi anak-anak. Bilamana PSE, aplikator atau gaming online ini eh jelas-jelas terbukti melanggar ataupun membahayakan ataupun menyebabkan kekacauan ya sudah ada harus ada sikap dari pemerintah untuk menindaklanjuti," tuturnya.
Dave menambahkan bahwa kemajuan teknologi seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kualitas hidup, bukan sebaliknya. Ia juga menyinggung bahwa kasus serupa pernah terjadi di luar negeri akibat pengaruh konten digital yang tidak terkontrol.
"Ya kita tidak bisa menutup itu, akan tetapi kan gini kan, ini bukan kejadian pertama kali. Di Amerika berapa kali kan kejadian penembakan sampai dengan menewaskan banyak anak di satu sekolah karena salah satu penyebabnya ya persenjataan yang dijual bebas, terus juga apa anak-anak ini menggunakan game-game seperti ini," tegas Dave.
Melalui pernyataannya, Komisi I DPR menekankan pentingnya keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan perlindungan masyarakat dari dampak negatif perkembangan teknologi digital.
(Fajar Ilman)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media