Nasional . 11/11/2025, 20:31 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Banyak orang sering bertanya-tanya, kenapa sih rupiah punya begitu banyak nol di belakangnya?
Kalau 1 dolar Amerika bisa setara belasan ribu rupiah, bukankah itu artinya nilai mata uang Indonesia sangat kecil?
Namun ternyata, banyaknya nol di rupiah bukan sekadar angka. Di baliknya tersimpan kisah panjang bahkan kelam tentang krisis, inflasi, dan kebijakan ekonomi ekstrem yang pernah mengguncang negeri ini.
Akar Masalah: Krisis dan Kegagalan Ekonomi di Masa Lalu
Sejak merdeka, sistem keuangan Indonesia beberapa kali mengalami guncangan hebat. Ada tiga peristiwa besar yang menyebabkan nilai rupiah terdepresiasi ekstrem, tahun 1950, 1959, dan 1965.
Setiap periode punya kisahnya sendiripenuh drama dan penderitaan rakyat.
1. Gunting Syarifuddin (1950): Setengah Nilai Uang Dihapus dalam Semalam
Tahun 1950, Indonesia baru saja lepas dari masa revolusi kemerdekaan. Ekonomi carut-marut, uang peninggalan Belanda dan Jepang masih beredar. Jumlah uang melimpah, tapi barang langka.
Untuk menekan inflasi, Menteri Keuangan Sjarifuddin Prawiranegara mengambil langkah ekstrem, seluruh uang kertas di atas Rp5 harus digunting!
Separuh kiri uang masih bisa dipakai, tapi nilainya jadi setengah. Separuh kanan? Diserahkan ke negara sebagai “pinjaman paksa” yang baru bisa dicairkan 40 tahun kemudian.
Akibatnya, rakyat kehilangan separuh tabungan dalam semalam. Rasa percaya terhadap pemerintah dan rupiah pun mulai luntur.
2. Sanering 1959: Tabungan Rakyat Dihapus, Bank Lumpuh
Sembilan tahun kemudian, inflasi kembali menggila. Pemerintah meluncurkan kebijakan baru bernama Sanering 1959.
Kali ini, nilai uang dipotong 90%!
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media