Ekonomi . 21/11/2025, 23:45 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
Program magang yang ditingkatkan ini bukan hanya soal pengalaman, tapi juga peluang karier nyata.
Dengan adanya rencana pembentukan SPPG hingga ke kampung-kampung terpencil, lulusan ahli gizi kini memiliki peluang kerja yang sangat luas dan tersebar merata di berbagai daerah. Mahasiswa yang magang di SPPG lokal akan lebih termotivasi dan terbiasa dengan tantangan di daerahnya, menjadikan mereka kandidat utama untuk mengisi posisi vital di SPPG setelah mereka lulus. Lulusan gizi kini tak perlu khawatir berebut lowongan di kota besar!
Tentu saja, PERSAGI menyadari bahwa mencetak ahli gizi baru membutuhkan waktu. Lalu, bagaimana nasib SPPG yang sudah beroperasi namun kekurangan tenaga ahli gizi saat ini?
PERSAGI langsung menawarkan solusi jangka pendek yang cerdas dan pragmatis!
Mereka mengusulkan agar SPPG yang baru berjalan mendapat pendampingan intensif dari tenaga gizi yang sudah bertugas di Puskesmas atau Dinas Kesehatan setempat. Tenaga gizi berpengalaman ini dapat membantu mengawasi proses krusial di SPPG, mulai dari penerimaan bahan pangan yang berkualitas, hingga pendampingan saat pengolahan makanan untuk memastikan standar gizi dan keamanan tetap terjaga.
Prof. Trina sangat realistis menghadapi tantangan ini: “Kita tidak bisa menghentikan program hanya karena belum ada ahli gizi. Program harus berjalan. Karena itu, kita bisa lakukan pendampingan atau pelatihan bagi staf yang ada,” tegasnya, menekankan pentingnya keberlanjutan program MBG.
Ini adalah langkah cerdik yang memastikan bahwa program nasional ini tidak terhenti, sambil menunggu ketersediaan ahli gizi yang lebih banyak lagi. Pendampingan ini juga bisa menjadi semacam pelatihan lapangan cepat bagi staf SPPG yang ada.
Dengan kolaborasi solid antara PERSAGI, Pemerintah (melalui BGN), dan institusi pendidikan, kebutuhan ahli gizi di SPPG diproyeksikan akan terpenuhi secara bertahap.
Target ambisius PERSAGI? Pada Maret 2026, mereka menargetkan sudah ada gelombang lulusan ahli gizi baru yang siap melamar dan berkontribusi secara aktif di SPPG terdekat di seluruh wilayah Indonesia.
“Kami sudah mempromosikan dan berkolaborasi dengan perguruan tinggi. Mari kita siapkan mahasiswa agar setelah lulus dapat berkontribusi di SPPG-SPPG di sekitar tempat tinggalnya,” pungkas Prof. Trina, memberikan semangat kepada seluruh stakeholder pendidikan gizi. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media