Ekonomi . 27/11/2025, 11:00 WIB

Potret Pilu Stasiun Jadi 'Hotel Dadakan', Netizen Teriak: KRL Wajib 24 Jam, Begini Tanggapan KAI

Penulis : Derry Sutardi  |  Editor : Derry Sutardi

fin.co.id - Baru-baru ini, isu soal jam operasional Kereta Rel Listrik (KRL) kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Pemicunya adalah sebuah fenomena pilu sekaligus viral yang memperlihatkan sejumlah penumpang terpaksa menginap di area Stasiun Cikarang.

Dalam video yang beredar, terlihat para pekerja malam dan penumpang yang kelelahan harus beristirahat di stasiun karena tertinggal jadwal perjalanan terakhir. Sontak, warganet pun ramai-ramai menyuarakan satu permintaan: "KRL harusnya beroperasi 24 jam dong!"

Melihat tingginya mobilitas warga Jabodetabek yang seolah tidak pernah tidur, wacana ini memang terdengar masuk akal. Tapi, apakah semudah itu merealisasikannya? Yuk, kita bedah faktanya bareng-bareng!

Menanggapi ramainya permintaan netizen, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI akhirnya angkat bicara. Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengakui bahwa dari sisi pelayanan, operasional 24 jam memang sangat positif dan memanjakan penumpang.

"Tentunya dari sisi pelayanan pelanggan, ini hal yang positif. Tapi tentunya kita harus hitung (plus minus), yang namanya pengoperasian kereta ini kan tidak simpel bahwa kita harus paksakan," ujar Bobby di Stasiun Gambir, dikutip Kamis 27 November 2025.

"Ada perhitungan teknis yang jelimet alias rumit, terutama soal perawatan sarana dan prasarana," sambungnya.

Bayangkan kalau motor atau mobil kamu dipakai non-stop 24 jam tanpa henti setiap hari, pasti mesinnya bakal cepat jebol, kan? Nah, begitu juga dengan sistem kereta api.

Bobby menekankan pentingnya Window Time atau jendela waktu perawatan. Saat ini, waktu tengah malam (saat KRL berhenti beroperasi) adalah waktu emas bagi para petugas teknis untuk turun ke lapangan.

Mereka mengecek hal-hal krusial seperti:

  • Kondisi jalur rel.

  • Sistem kelistrikan (kabel LAA/Listrik Aliran Atas).

  • Sistem persinyalan dan keselamatan.

"Kalau aliran listriknya 24 jam, kapan kita ngecek kabelnya? Kan gitu,"  ujarnya.

Beliau juga mengingatkan kita pada risiko gangguan teknis, seperti kejadian layangan nyangkut di kereta cepat Whoosh. KRL punya jaringan kabel yang jauh lebih panjang dan terbuka, jadi risiko gangguannya pun lebih kompleks. Kalau dipaksakan 24 jam tanpa perawatan rutin, risiko kecelakaan atau mogok di jalan justru makin besar.

Bukan Wacana Baru

Ternyata, diskusi soal KRL 24 jam ini seperti lagu lama yang diputar kembali. Pada tahun 2015, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) di era Menteri Ignasius Jonan juga pernah membahas ini.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com