Nasional . 30/11/2025, 12:12 WIB
Penulis : Wanda Afifah | Editor : Wanda Afifah
fin.co.id - Bencana alam kembali mengguncang Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Banjir bandang, tanah longsor, dan pohon tumbang memaksa sekitar 4.000 warga mengungsi. Kondisi ini terjadi di 11 dari 16 kecamatan yang terdampak, menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agam per Sabtu, 29 November 2025 pukul 20.00 WIB.
Kepala Pelaksana BPBD Agam, Rahmat Lasmono, menjelaskan, warga mengungsi karena rumah mereka terendam air, rusak akibat longsor, atau tertimpa pohon tumbang. Mereka kini menempati masjid, mushalla, rumah saudara, dan fasilitas pengungsian lainnya.
Distribusi pengungsi menurut kecamatan cukup bervariasi. Tanjung Raya menjadi yang paling banyak terdampak dengan 1.129 orang, disusul Tanjung Mutiara 965 orang dan Ampek Nagari 600 orang. Kecamatan lainnya mencatat angka pengungsi lebih sedikit, seperti Palembayan 167 orang, Palupuh 100 orang, Baso 30 orang, Malalak 135 orang, Banuhampu 10 orang, Matur 300 orang, Ampek Koto 778 orang, dan Lubuk Basung 129 orang.
BPBD memastikan, kebutuhan dasar pengungsi tetap terpenuhi. Sebanyak 26 dapur umum telah didirikan untuk menyediakan makanan bagi warga. Upaya ini menjadi prioritas karena sebagian besar pengungsi harus meninggalkan rumah tanpa membawa persediaan makanan.
Bencana yang melanda Agam juga menimbulkan kerusakan fisik yang signifikan. Data BPBD mencatat, 468 rumah rusak ringan, 26 rumah rusak sedang, dan 49 rumah rusak berat. Kerusakan ini menambah urgensi penanganan pascabencana agar warga bisa kembali ke rumahnya dengan aman.
Selain kerusakan rumah, korban jiwa juga meningkat. Hingga saat ini, tercatat 85 orang meninggal dunia akibat banjir, longsor, dan pohon tumbang. Cecaran korban meninggal tertinggi terjadi di Kecamatan Palembayan dengan 55 orang, disusul Malalak 10 orang, Tanjung Raya empat orang, Matur satu orang, dan Palupuh satu orang. BPBD juga melaporkan 78 warga masih hilang, sehingga upaya pencarian dan evakuasi terus dilakukan.
Situasi ini mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap bencana alam di Sumatera Barat, terutama pada musim hujan. Tanah longsor dan banjir bandang sering terjadi di daerah berbukit dan lembah seperti Agam, dan dapat menimbulkan dampak besar bagi masyarakat setempat.
Rahmat Lasmono menekankan, data pengungsi ini diperoleh dari pemerintah nagari atau desa di 11 kecamatan terdampak. Hal ini menunjukkan koordinasi antara BPBD dan pemerintah lokal berjalan aktif untuk memastikan informasi yang akurat dan cepat.
Meski sudah ada upaya penanganan, warga diharapkan tetap memantau kondisi lingkungan sekitar dan mengikuti arahan pihak berwenang. Langkah preventif seperti mengungsi lebih awal dan menjaga keluarga tetap aman menjadi kunci keselamatan.
Bencana ini juga membuka mata tentang pentingnya perencanaan tata ruang yang memperhitungkan risiko alam, serta kesiapan masyarakat menghadapi kejadian ekstrem. Sementara itu, bantuan logistik dan dukungan medis menjadi prioritas, mengingat jumlah pengungsi yang besar dan kondisi rumah yang rusak parah.
Dengan jumlah pengungsi yang mencapai ribuan dan korban meninggal yang signifikan, situasi di Agam menjadi sorotan nasional. Pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan BPBD dan instansi terkait untuk mempercepat proses evakuasi, penanganan pengungsi, dan perbaikan rumah yang rusak.
Warga Agam kini hidup dalam kondisi darurat, namun upaya cepat BPBD bersama masyarakat lokal menunjukkan respons yang tanggap dan solidaritas yang tinggi. Semua pihak berharap bencana ini segera berlalu dan warga bisa kembali ke rumah dengan aman. (ANTARA)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media