Politik . 30/11/2025, 18:52 WIB
Penulis : Khanif Lutfi | Editor : Khanif Lutfi
Lebih jauh, Denny JA menekankan bahwa inovasi dalam sastra bukan sekadar gaya artistik, tetapi merupakan kebutuhan moral zaman.
“Setiap generasi memerlukan bahasa baru untuk memahami dukanya, harapannya, dan kontradiksinya,” tuturnya.
Di tengah dunia yang berubah cepat—teknologi melesat, ketimpangan membesar, dan luka sosial muncul dalam bentuk baru—sastra wajib menemukan cara baru untuk menyuarakan kebenaran.
“Inovasi sastra adalah jembatan antara kebenaran yang kita rasakan dan kebenaran yang akhirnya kita berani ucapkan,” katanya.
Puisi Esai: Suara Luka Sosial dari Indonesia
Denny JA juga menjelaskan alasan ia menciptakan genre Puisi Esai lebih dari satu dekade lalu. Genre ini menggabungkan investigasi faktual dengan imajinasi liris, sehingga tragedi nyata dapat naik menjadi karya sastra.
“Bagaimana memberi suara pada luka sosial yang tak dapat ditampung angka statistik, tetapi tidak cukup pula jika hanya dengan puisi?” tanya Denny JA.
Melalui puisi esai, isu-isu seperti perundungan, utang digital, korupsi, ketidakadilan gender, dan pergulatan hidup masyarakat biasa menjadi kisah yang bukan hanya didengar, tetapi dirasakan.
“Di sini, fakta tidak lagi dingin; emosi tidak lagi terisolasi. Penderitaan yang dialami menjadi makna bersama—dan karenanya, menjadi kemanusiaan bersama,” ujarnya.
Penghargaan BRICS ini, menurutnya, menunjukkan bahwa eksperimennya menemukan resonansi jauh di luar Indonesia.
Pesan Harapan untuk Penulis Muda Global South
Menutup pidatonya, Denny JA memberikan pesan yang kuat kepada generasi baru penulis Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
“Jika sastra mampu melakukan satu hal, biarkan ia mengingatkan kita bahwa setiap luka adalah pintu, dan setiap cerita adalah jembatan,” katanya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media