Politik . 04/12/2025, 22:38 WIB

Bukan Sekadar Bantuan! Ini Makna Terselubung di Balik Perang Narasi Cak Imin vs Golkar

Penulis : Mihardi  |  Editor : Mihardi

fin.co.id - Direktur Eksekutif Aljabar Strategic, Arifki Chaniago, menilai silang pernyataan antara Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia dan Menko PM Muhaimin Iskandar terkait banjir di Sumatera tidak bisa dilepaskan dari konteks yang lebih besar: persaingan membangun narasi di tengah ramainya partai politik turun memberikan bantuan. Menurut Arifki, bukan hanya bantuan yang dipertontonkan, tetapi juga klaim kepedulian, siapa yang tampak paling hadir, dan paling dekat dengan warga.

“Dalam situasi bencana, politik bergerak seperti arus deras. Semua parpol turun cepat dengan membawa bantuan, atribut, hingga dokumentasi. Itu cara mereka menunjukkan kedekatan dengan publik. Di momen yang sama, pernyataan Doli dan respons Cak Imin memperlihatkan bagaimana elite berusaha menata narasi agar posisi mereka tidak tenggelam oleh banjir simbol,” ujar Arifki dalam keterangannya, Kamis, 4 Desember 2025.

Ia menjelaskan, ucapan Cak Imin mengenai tiga menteri yang “bertobat” merupakan strategi untuk menekan pemerintah agar tampil lebih sigap. Sebaliknya, respons Doli, yang mengingatkan agar fokus tetap pada kepedulian dan meminta para menteri tidak saling menyalahkan, menjadi bentuk counter framing guna menjaga percakapan tetap teknokratis, bukan bernuansa moralistik.

“Ini seperti dua cara memadamkan api. Cak Imin membawa sirene agar semua orang sadar ada ‘api’ di kinerja pemerintah. Doli membawa selang air, mengingatkan bahwa yang dibutuhkan sekarang adalah tindakan, bukan gema sirene. Dua-duanya masuk akal dilihat dari peran masing-masing,” tuturnya.

Arifki juga menyoroti bahwa kehadiran partai politik di lokasi bencana tidak hanya soal distribusi bantuan, tetapi sekaligus visual framing. Publik memperhatikan siapa yang terjun langsung, siapa yang aktif, dan siapa yang sebatas memberikan komentar.

“Bantuan parpol itu ibarat ‘bahasa tubuh’ politik. Ketika bendera partai bertebaran di lokasi bencana, itu adalah cara mereka mengatakan: ‘kami ada untuk kalian’. Di sisi lain, komentar elite adalah ‘bahasa lisan’. Keduanya saling melengkapi dalam persaingan membentuk persepsi publik,” jelasnya.

Ia menyebut dinamika antara Doli dan Cak Imin sebagai kompetisi membangun citra kepedulian. Saat partai berlomba hadir ke lapangan, para elite berebut posisi sebagai pihak yang paling layak didengar—apakah sebagai suara moral atau suara teknis.

“Ketika parpol turun ke lokasi, mereka sedang membangun pencitraan berbasis kehadiran. Ketika elite seperti Cak Imin dan Doli berbicara, mereka membangun pencitraan berbasis penjelasan. Kompetisi ini tidak bisa dihindari karena bencana selalu menjadi panggung yang sensitif bagi legitimasi politik,” katanya.

Di sisi lain, Arifki menekankan pentingnya menjaga agar rivalitas naratif ini tidak menghambat kerja kemanusiaan. Selama kompetisi tersebut tidak mengganggu penanganan di lapangan, dinamika itu masih wajar dalam praktik demokrasi.

“Di tengah bencana, publik melihat dua hal sekaligus: siapa yang datang membawa beras, dan siapa yang datang membawa arah. Selama keduanya bergerak dalam harmoni, politik tetap bisa berjalan tanpa mengaburkan kemanusiaan,” pungkas Arifki.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com