Internasional . 19/12/2025, 21:26 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Bencana banjir dan longsor berskala besar melanda Pulau Sumatera pada akhir November hingga awal Desember. Hujan deras yang mengguyur selama berhari-hari memicu runtuhnya lereng perbukitan, meluapnya sungai, serta merendam kawasan permukiman di sejumlah provinsi.
Dampaknya sangat serius. Lebih dari 950 orang dilaporkan meninggal dunia, ratusan lainnya masih dinyatakan hilang, dan lebih dari 770.000 warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Ini menjadi salah satu bencana hidrometeorologi terburuk dalam satu dekade terakhir di Indonesia.
Namun di tengah skala bencana yang masif tersebut, muncul keputusan yang memantik perhatian publik internasional, Indonesia menolak sejumlah bantuan asing, termasuk bantuan kemanusiaan dari negara-negara Timur Tengah.
Banjir dan longsor menyebabkan kerusakan besar dengan nilai kerugian ditaksir menembus 3,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp51 triliun. Infrastruktur vital lumpuh.
Jalan dan jembatan putus, sekolah rusak, kawasan permukiman tersapu arus, serta jaringan listrik dan komunikasi terhenti.
Beberapa wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bahkan sempat terisolasi selama berhari-hari. Akses bantuan darat terhambat, sementara cuaca buruk menyulitkan distribusi logistik melalui udara.
Kondisi inilah yang membuat banyak negara sahabat segera menawarkan bantuan.
Bagi negara-negara Timur Tengah, bencana di Sumatera langsung memicu respons solidaritas. Pada 1 Desember, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman mengirimkan telegram pribadi kepada Presiden Prabowo Subianto yang berisi ungkapan duka mendalam. Pesan serupa juga disampaikan Raja Salman bin Abdulaziz.
Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan kesiapan penuh untuk membantu. Duta Besar UEA untuk Indonesia, Abdulla Salem Al Dhaheri, menegaskan negaranya siap mengirim tim kemanusiaan dan bantuan logistik “segera setelah Indonesia menyatakan keterbukaannya”.
Ucapan belasungkawa dan tawaran bantuan juga datang dari Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Sultan Oman Haitham bin Tariq, hingga Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang bahkan menawarkan pengiriman tim darurat.
Tak ketinggalan, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang mewakili 57 negara mayoritas Muslim, menyerukan dukungan cepat bagi Indonesia.
Menurut laporan Middle East Monitor, tawaran tersebut bukan sekadar simbolik. Hubungan Indonesia dan Timur Tengah selama ini terjalin erat melalui ikatan agama, migrasi tenaga kerja, investasi dana kekayaan negara Teluk, serta kemitraan strategis. Karena itu, dorongan untuk membantu muncul secara cepat dan tulus.
Namun, respons pemerintah Indonesia justru mengejutkan sebagian pihak. Pada 5 Desember, Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan bahwa “bantuan internasional belum diperlukan” karena kapasitas penanganan dalam negeri dinilai masih memadai.
Sehari kemudian, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan pemerintah memiliki “pertimbangan sendiri” dalam menyikapi tawaran bantuan dari luar negeri.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media