Internasional . 03/01/2026, 20:31 WIB

Dari Sahabat Jadi Lawan: Arab Saudi vs UEA Berebut Pengaruh di Timur Tengah dan Afrika

Penulis : Derry Sutardi  |  Editor : Derry Sutardi

fin.co.id - Selama bertahun-tahun, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) dikenal sebagai duet kuat di kawasan Teluk. Keduanya tampil kompak dalam berbagai isu geopolitik, mulai dari konflik regional, stabilitas Timur Tengah, hingga ekspansi ekonomi dan pengaruh politik ke Afrika.

Namun, kebersamaan yang selama ini terlihat solid ternyata menyimpan retakan. Kini, rivalitas antara dua kekuatan besar Teluk itu tak lagi tersembunyi.

Dari Yaman, Sudan, hingga Tanduk Afrika, perbedaan kepentingan Arab Saudi dan UEA kian mencolok dan bahkan meledak ke permukaan.

Seperti dilaporkan AFP pada Jumat 2 Januari 2026, hubungan dekat antara Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dan Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan (MBZ) selama bertahun-tahun menjadi fondasi utama aliansi kedua negara.

Sheikh Mohamed bin Zayed bahkan kerap disebut sebagai mentor politik Mohammed bin Salman pada fase awal kebangkitan sang pangeran di panggung kekuasaan Arab Saudi.

Namun, seiring berjalannya waktu, ambisi keduanya bergerak ke arah berbeda. Mohammed bin Salman fokus mempercepat reformasi besar-besaran di dalam negeri melalui program Vision 2030, sembari menegaskan kembali Arab Saudi sebagai pemimpin utama dunia Arab dan Islam.

Sementara itu, UEA justru memperluas pengaruhnya melalui jaringan aliansi regional, kerja sama keamanan, dan dukungan terhadap aktor non-negara di berbagai konflik kawasan.

Perbedaan strategi inilah yang perlahan menggerus keselarasan Riyadh dan Abu Dhabi.

Konflik di Yaman menjadi panggung paling jelas dari keretakan hubungan Arab Saudi dan UEA. Meski secara formal masih tergabung dalam koalisi militer melawan kelompok Houthi, kepentingan kedua negara di lapangan sangat berbeda.

Ketegangan meningkat ketika Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC) kelompok separatis yang didukung UEA merebut wilayah strategis di provinsi Hadramawt dan Mahra, daerah kaya sumber daya yang sebelumnya dikuasai pasukan loyalis pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.

Bahkan, koalisi militer pimpinan Riyadh dilaporkan sempat membombardir pengiriman senjata yang diduga berasal dari UEA dan ditujukan kepada kelompok separatis tersebut.

Retakan sebenarnya sudah terlihat sejak UEA menarik sebagian besar pasukannya dari Yaman pada Juli 2019, langkah yang membuat Arab Saudi harus menanggung beban konflik sendirian.

Pakar Yaman dan Teluk, Baraa Shiban, menilai tujuan Arab Saudi dan UEA di Yaman “sangat berbeda” dan nyaris mustahil dipertemukan.

Menurut Shiban, Arab Saudi cenderung ingin mempertahankan struktur negara Yaman yang ada demi stabilitas regional.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com