Nasional . 04/01/2026, 19:02 WIB
Penulis : Khanif Lutfi | Editor : Khanif Lutfi
fin.co.id - Sungai Lokop, yang dulunya menjadi primadona pariwisata di Aceh Timur, kini berubah drastis. Banjir bandang telah mengubah lanskapnya menjadi hamparan pasir luas, menghilangkan jejaknya sebagai destinasi idaman para pelancong.
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Aceh Timur, Syahril, menyampaikan bahwa dampak banjir bandang ini sangat luas dan signifikan bagi sektor pariwisata daerah.
Berdasarkan pantauan di lapangan, alur Sungai Lokop telah bergeser dari jalur aslinya. Sungai yang dulunya ramai dikunjungi kini bertransformasi menjadi lautan pasir.
Perubahan dramatis ini disebabkan oleh derasnya aliran banjir yang memindahkan sungai hingga ke kaki gunung. Kawasan yang sebelumnya menjadi pusat keramaian kini tak lagi berfungsi sebagai objek wisata.
Bahkan, ikon wisata berupa jembatan gantung yang menjadi favorit pengunjung pun tak luput dari amukan bencana. Infrastruktur tersebut hancur lebur dan tersapu arus deras banjir.
Pendataan sementara menunjukkan angka mengejutkan: sekitar 80 persen objek wisata di Aceh Timur mengalami kerusakan, mulai dari tingkat ringan hingga berat.
Kerusakan terparah terlihat pada destinasi wisata pantai dan alam yang berada di bantaran sungai, termasuk Sungai Lokop di Kecamatan Serbajadi.
Sungai Lokop menjadi cerminan nyata betapa bencana alam dapat mengubah bentang alam secara total. Dari destinasi unggulan dengan air jernih dan keindahan memesona, kini ia membutuhkan upaya pemulihan yang serius.
Selain itu, sejumlah objek wisata pantai juga mengalami kerusakan parah. Di kawasan Matang Rayeuk, PP Idi Timur, hampir seluruh pondok wisata di sepanjang pantai dilaporkan rata dengan tanah akibat terjangan banjir dan gelombang laut.
Hal serupa terjadi di Pantai Leuge. Selain pondok yang rusak, abrasi besar telah memutus akses jalan. Dampak ini tidak hanya merugikan sektor pariwisata, tetapi juga mengganggu aktivitas perekonomian masyarakat sekitar.
Abrasi di Pantai Leuge menjadi perhatian serius. Terputusnya badan jalan tidak hanya menghambat kunjungan wisatawan, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi warga.
Bencana alam ini merupakan pukulan telak bagi sektor pariwisata Aceh Timur yang baru saja mulai menunjukkan geliat kebangkitan.
"Kami berharap melalui sinergi lintas sektor, objek-objek wisata yang terdampak bencana dapat kembali ditata dan bangkit, sehingga mampu menarik kembali minat wisatawan di masa mendatang," ujar Syahril, penuh harap.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media