Nasional . 05/01/2026, 18:16 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Berbeda dengan Ujian Nasional (UN) di masa lalu atau SNBP yang dinilai sangat menentukan masa depan akademik siswa, TKA tidak memiliki tekanan psikologis yang sama.
“Dua jenis ujian tersebut dikenal sangat efektif membuat siswa belajar dengan sungguh-sungguh dan menjadi alat seleksi yang cukup baik,” ujar Prof Tuti, dikutip dari laman resmi Unair, Senin (5/1/2026).
Ia menambahkan, tekanan tinggi pada ujian penting bahkan kerap memicu praktik curang, yang ironisnya justru menunjukkan betapa besar pengaruh ujian tersebut terhadap keseriusan belajar siswa.
Faktor kedua adalah distraksi digital yang semakin menggerus fokus dan ketekunan belajar siswa.
Paparan gawai, media sosial seperti Instagram dan TikTok, hingga game online, membuat konsentrasi jangka panjang siswa melemah. Tak sedikit siswa terjebak pada gaya hidup instan, melihat kesuksesan seolah bisa diraih tanpa proses panjang.
“Distraksi digital melemahkan daya kritis, konsentrasi jangka panjang, serta ketekunan membaca dan berpikir analitis,” jelas dosen FISIP Unair tersebut.
Lebih jauh, Prof Tuti menilai TKA bukan sekadar ujian, melainkan indikator kualitas pendidikan nasional. Jika hasilnya rendah, maka ada kemungkinan metode pembelajaran di sekolah belum efektif dalam membangun pemahaman konsep.
Menurutnya, pembelajaran di Indonesia masih terlalu menekankan hafalan, bukan penalaran.
“Metode belajar harus diarahkan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi atau High Order Thinking Skills (HOTS),” tegasnya.
Untuk memperbaiki kondisi ini, Prof Tuti menawarkan sejumlah solusi strategis.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media