Pendidikan . 11/01/2026, 12:36 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Tanpa pemetaan yang presisi antara kebutuhan industri dan jumlah tenaga kerja yang siap, kebijakan pendidikan kejuruan berisiko meleset sasaran.
Kita tentu tidak ingin melihat anggaran dan sumber daya terbuang percuma untuk program yang tidak menjawab kebutuhan riil.
Oleh karena itu, evaluasi mendalam terhadap jurusan-jurusan SMK yang tetap diminati meski penyerapan lulusannya masih terbatas menjadi sebuah keharusan.
Evaluasi ini tidak boleh parsial.
Penelaahan mendalam terhadap jurusan-jurusan SMK yang digemari namun penyerapan lulusannya masih minim harus dilakukan secara komprehensif dan seimbang.
Fokusnya jangan hanya terpusat pada kurikulum atau kualitas lulusan semata.
Kita perlu membongkar lebih dalam, melihat dari berbagai sudut pandang.
Pertimbangan terhadap kebutuhan riil industri adalah kunci.
Bagaimana sebenarnya tren permintaan tenaga kerja di berbagai sektor?
Apakah jurusan yang populer di SMK saat ini masih relevan dengan proyeksi kebutuhan masa depan?
Selain itu, kondisi daerah tempat SMK berdiri juga menjadi faktor penting.
Setiap daerah memiliki karakteristik ekonomi dan industri yang berbeda.
Pola kebutuhan tenaga kerja di satu daerah bisa sangat berbeda dengan daerah lain.
Tak ketinggalan, ketersediaan lapangan kerja yang konkret juga harus menjadi tolok ukur.
Jangan sampai kita terus mencetak lulusan untuk bidang yang minim peluang kerjanya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media