Internasional . 13/01/2026, 16:26 WIB

Perang Sinyal! Jammer Rusia Bantu Iran Bombardir Starlink Milik Elon Musk

Penulis : Derry Sutardi  |  Editor : Derry Sutardi

Menurut laporan Forbes, strategi “kill switch” yang dilakukan Iran untuk melumpuhkan Starlink bukan tanpa harga mahal. Biaya operasionalnya diperkirakan mencapai US$1,56 juta per jam, atau setara sekitar Rp24 miliar per jam.

Angka tersebut menunjukkan bahwa mematikan internet satelit bukan langkah sepele, melainkan operasi militer berbiaya tinggi yang dirancang untuk situasi krisis atau kepentingan strategis tertentu.

Kasus Iran bukanlah yang pertama. Keberadaan Starlink sebagai konstelasi satelit internet terbesar di dunia telah lama memicu kekhawatiran berbagai negara, terutama yang mengandalkan kontrol ketat terhadap informasi.

Hingga Oktober 2025, jumlah satelit Starlink milik Elon Musk dikabarkan telah melampaui 10.000 unit, menjadikannya tulang punggung konektivitas global berbasis orbit rendah.

China menjadi salah satu negara yang secara terbuka mengkaji cara menetralkan jaringan internet satelit seperti Starlink.

Sebuah makalah akademis yang diterbitkan dalam jurnal Systems Engineering and Electronics mengungkap bahwa peneliti dari dua universitas ternama di China telah mensimulasikan skenario pemadaman Starlink dalam konteks konflik masa depan.

Hasilnya, untuk mengganggu jaringan Starlink di wilayah seluas Taiwan, militer China diperkirakan membutuhkan 1.000 hingga 2.000 drone yang dilengkapi perangkat jammer dan dioperasikan secara bersamaan.

Kesimpulannya tegas: Starlink bisa dilumpuhkan, tetapi biayanya sangat besar dan kompleks.

Sebelumnya, konstelasi satelit Starlink memainkan peran vital dalam konflik Rusia-Ukraina. Jaringan ini menjadi urat nadi komunikasi militer Ukraina, menjaga konektivitas internet tetap hidup meski infrastruktur darat dihancurkan serangan.

Pengalaman tersebut membuat banyak negara mulai menyadari bahwa internet satelit bukan lagi sekadar layanan komersial, melainkan aset strategis dalam perang modern.

Keberhasilan Iran melumpuhkan Starlink menandai babak baru dalam perang elektronik global. Kontrol atas ruang angkasa, spektrum frekuensi, dan jaringan satelit kini menjadi medan tempur baru yang tak kalah penting dari darat, laut, dan udara.

Bagi Elon Musk dan Starlink, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dominasi teknologi tinggi tetap memiliki celah.

Sementara bagi negara-negara dunia, ini adalah sinyal bahwa perang masa depan tak lagi soal senjata konvensional, melainkan siapa yang menguasai sinyal dan data. (*)

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com