Politik . 13/01/2026, 08:03 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDIP 2026 dipandang sebagai momentum strategis untuk meninjau kembali dinamika politik di Jawa Tengah. Pernyataan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang menyebut wilayah tersebut sebagai target basis elektoral baru menempatkan PDIP pada persimpangan penting: apakah PSI dipandang sebagai rival langsung, atau justru bagian dari konfigurasi kekuasaan yang lebih luas bersama Partai Gerindra.
Pengamat Politik Arifki Chaniago menilai, Jawa Tengah selama ini tidak hanya berfungsi sebagai kantong suara PDIP, tetapi juga memiliki nilai simbolik dan kekuatan organisasi yang kuat. Oleh karena itu, setiap manuver politik yang menyasar wilayah ini, termasuk dari PS, tidak bisa dipahami sekadar sebagai persaingan elektoral biasa, melainkan harus dibaca dalam kerangka struktural. PSI dinilai membawa narasi pembaruan serta kedekatan dengan pusat kekuasaan, yang secara psikologis berpotensi menggeser persepsi dominasi lama.
Meski demikian, Arifki menegaskan bahwa potensi ancaman terhadap PDIP di Jawa Tengah tidak berdiri tunggal. Di balik ekspansi PSI, terdapat Gerindra sebagai partai penguasa yang memiliki modal kekuasaan, jaringan elite, serta pengaruh terhadap agenda nasional. Dalam konteks ini, PSI lebih tepat diposisikan sebagai elemen baru, sementara Gerindra tetap menjadi aktor struktural yang menentukan arah persaingan.
“PSI menguji ruang simbolik, Gerindra menguji struktur kekuasaan. Keduanya berbeda level, tetapi saling berkaitan,” ujar Arifki dalam keterangannya, Selasa, 13 Januari 2026.
Menurutnya, Rakernas PDIP akan menjadi penanda arah respons politik partai ke depan. Apabila forum tersebut menitikberatkan pada konsolidasi kader, penguatan basis akar rumput, serta komitmen terhadap pelaksanaan Pilkada langsung, maka itu mencerminkan upaya memperkokoh pertahanan struktural menghadapi kekuatan besar.
Sebaliknya, jika perhatian lebih diarahkan pada pertarungan citra dan simbol, maka PSI kemungkinan dipandang sebagai tantangan yang perlu segera diantisipasi.
Arifki juga menilai bahwa posisi PDIP di tingkat nasional akan sangat memengaruhi strategi tersebut. Sikap oposisi yang tegas cenderung mendorong partai untuk menjaga Jawa Tengah sebagai basis utama.
Namun, jika masih ada ruang kompromi di level nasional, fokus penguatan daerah berpotensi terpecah dan membuka ruang persaingan yang lebih longgar.
Ia menegaskan, Rakernas PDIP 2026 bukan hanya soal menentukan arah nasional menuju 2029, tetapi juga bagaimana partai memetakan potensi ancaman politik di wilayah yang selama ini dianggap sebagai kandang sendiri. Apakah Jawa Tengah tetap diperlakukan sebagai daerah aman, atau justru dipandang sebagai arena kontestasi baru yang membutuhkan pendekatan berbeda.
“Dalam politik, perubahan besar sering diawali bukan oleh kekalahan, tetapi oleh kelengahan membaca perubahan peta,” pungkas Arifki.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media