Internasional . 16/01/2026, 19:23 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Di tengah gelombang protes nasional yang mengguncang Iran, Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, mulai tampil ke publik dengan membawa visi besar tentang masa depan Iran pasca-runtuhnya Republik Islam.
Dalam sejumlah pernyataan terbaru, Pahlavi menawarkan gambaran Iran yang sangat berbeda: tanpa senjata nuklir, mengakui Israel, dan menjalin kerja sama energi dengan Barat.
Namun, di balik narasi ambisius tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah Reza Pahlavi benar-benar memiliki dukungan kuat dari rakyat Iran? Bahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun mengaku masih meragukannya.
Dalam pernyataan publiknya pada Kamis 15 Januari 2026, Reza Pahlavi memaparkan sejumlah prioritas utama yang akan ia jalankan jika pemerintahan teokratis Iran berhasil digulingkan.
Beberapa poin utama dalam visi Pahlavi antara lain:
Iran tidak akan mengejar kepemilikan senjata nuklir
Pemberantasan perdagangan narkoba dan kejahatan terorganisir
Pengakuan langsung terhadap negara Israel
Peningkatan ekspor minyak dan gas Iran ke pasar global
Kerja sama ekonomi dan energi dengan negara-negara Barat
Bagi banyak analis geopolitik, agenda ini terdengar sangat selaras dengan kepentingan Washington, terutama di era kepemimpinan Donald Trump yang menaruh perhatian besar pada isu nuklir Iran dan stabilitas Timur Tengah.
Tak sedikit pihak menilai, visi tersebut sengaja dirancang untuk menarik simpati Amerika Serikat, dengan harapan mendapat dukungan politik—bahkan strategis—jika rezim Iran tumbang akibat tekanan rakyat.
Sejumlah pakar menilai langkah Reza Pahlavi lebih mencerminkan strategi lobi internasional, bukan gerakan politik berbasis akar rumput di dalam negeri Iran.
Trita Parsi, Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute di Washington, menilai Pahlavi sedang berjuang keras mendapatkan dukungan Trump, namun sejauh ini belum berhasil.
“Dia benar-benar kesulitan mendapatkan persetujuan Trump, untuk memberi kesan bahwa ia memiliki dukungan kuat. Itu tampaknya tidak berhasil,” ujar Parsi.
Menurutnya, strategi Pahlavi justru menunjukkan kelemahan utama: ketiadaan basis dukungan domestik yang solid.
“Dia mencoba mendapatkan dukungan dari pemerintah AS karena dia tidak berusaha melakukan revolusi dari bawah, melainkan ingin dipasang dari atas. Itu mencerminkan kurangnya rasa percaya diri dan menunjukkan ia memiliki basis dukungan yang sangat lemah,” tegas Parsi.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media