Pendidikan . 19/01/2026, 15:01 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Dengan kebijakan ini, pemerintah membuka lowongan seluas-luasnya bagi lulusan baru maupun profesional pendidikan yang ingin berkontribusi di Sekolah Garuda, tanpa mengganggu distribusi guru di sekolah reguler.
Tak hanya soal kualitas, kesejahteraan guru Sekolah Garuda juga menjadi fokus utama pemerintah. Saat ini, Kemendiktisaintek tengah berkoordinasi dengan berbagai kementerian dan lembaga (K/L) untuk menyusun regulasi khusus terkait insentif dan tunjangan guru.
Stella memastikan, guru yang lolos seleksi Sekolah Garuda akan mendapatkan skema insentif yang lebih menarik dibandingkan guru pada umumnya.
“Saya sedang bersama-sama dengan teman-teman dari berbagai macam K/L, itu sedang menggodok peraturan agar guru kita bisa memberikan insentif yang lebih di Sekolah Garuda,” jelasnya.
Skema kesejahteraan ini diharapkan mampu menarik talenta-talenta terbaik di bidang pendidikan untuk bergabung.
Dari sisi akademik, Sekolah Garuda akan mengadopsi kurikulum International Baccalaureate (IB) sebagai pengayaan dari Kurikulum Nasional.
Pemilihan kurikulum IB bukan tanpa alasan. Berdasarkan berbagai studi internasional, lulusan IB memiliki peluang lebih besar diterima di perguruan tinggi kelas dunia.
“Berdasarkan data, lulusan International Baccalaureate dibandingkan dengan lulusan Cambridge A-Level, kemungkinan diterima di perguruan tinggi top itu sekitar 25 sampai 30 persen lebih,” kata Stella.
Kurikulum IB dikenal menekankan pada:
Berpikir kritis
Riset dan penulisan akademik
Kemandirian belajar
Perspektif global
Dengan kombinasi kurikulum nasional dan IB, Sekolah Garuda diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik sekaligus berkarakter global. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media