Pendidikan . 20/01/2026, 22:58 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Ketidakhadiran siswa atlet di ruang kelas kini tidak lagi dapat dipandang semata sebagai persoalan kedisiplinan, melainkan mencerminkan masalah struktural dalam sistem pendidikan yang belum sepenuhnya adaptif. Kondisi tersebut mendorong Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Esa Unggul untuk menghadirkan solusi nyata di SMA Negeri 2 Setu Bekasi melalui pengembangan sistem pembelajaran digital yang memungkinkan siswa atlet tetap mengikuti proses belajar meski harus meninggalkan sekolah karena latihan maupun kompetisi.
Program bertajuk “Pengembangan Sistem Pembelajaran Digital untuk Mendukung Siswa Atlet” ini dirancang bukan sekadar sebagai kegiatan seremonial. Tim PkM secara langsung mengembangkan dan menerapkan Learning Management System (LMS) berbasis Moodle yang benar-benar digunakan dalam aktivitas pembelajaran harian oleh guru dan siswa.
Tantangan Nyata di Balik Prestasi Olahraga
SMA Negeri 2 Setu Bekasi dikenal sebagai sekolah dengan banyak siswa berprestasi di bidang olahraga, terutama sepak bola. Namun, intensitas latihan dan keikutsertaan dalam berbagai kejuaraan membuat siswa atlet kerap meninggalkan kelas reguler. Dampaknya, materi pelajaran tertinggal, tugas tidak terpantau secara optimal, serta proses evaluasi akademik menjadi kurang adil.
Sebelum program ini berjalan, guru mengandalkan grup WhatsApp sebagai media utama penyampaian materi dan tugas. Tidak tersedia sistem terintegrasi untuk pencatatan kehadiran digital, pengarsipan materi, maupun evaluasi daring yang terstruktur. Dalam situasi tersebut, ketertinggalan akademik siswa atlet sulit dihindari.
Dari Analisis Kebutuhan ke Implementasi Nyata
Melalui diskusi awal bersama kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, dan para guru, tim Universitas Esa Unggul melakukan pemetaan kebutuhan secara langsung. Sekolah memerlukan sistem pembelajaran yang mudah diakses melalui ponsel dan laptop, sederhana digunakan oleh guru, mendukung materi, tugas, kuis, serta interaksi daring, dan fleksibel bagi siswa dengan mobilitas tinggi.
Menjawab kebutuhan tersebut, tim membangun LMS berbasis Moodle yang di-hosting pada domain sekolah. Sistem ini dikonfigurasi dengan pembagian kelas X, XI, XII, serta kelas khusus siswa atlet, lengkap dengan fitur kuis, forum diskusi, notifikasi otomatis, dan mekanisme pendaftaran mandiri siswa.
“Ini bukan proyek konsep. Sistemnya hidup dan dipakai. Guru langsung membuat kelas, siswa langsung mengakses materi,” kata Ketua Tim PkM Imam Santosa dalam keterangan, Selasa, 20 Januari 2026.
Pelatihan Praktis dan Respons Langsung Pengguna
Pelatihan dan uji coba sistem dilaksanakan dalam satu hari penuh. Guru tidak hanya menerima penjelasan, tetapi langsung mempraktikkan pengunggahan materi, pembuatan kuis, pemantauan aktivitas siswa, hingga pengelolaan penilaian daring. Siswa atlet pun mencoba sistem tersebut melalui ponsel dan laptop, mengikuti simulasi pembelajaran, serta memberikan umpan balik secara langsung.
Seorang guru mengungkapkan, “Selama ini kami seperti memadamkan api dengan WhatsApp. Dengan sistem ini, pembelajaran jadi tertata dan bisa dipantau.”
Sementara seorang siswa atlet kelas XI menyampaikan, “Sekarang kalau latihan di luar kota, saya tetap bisa ikut pelajaran. Tidak takut tertinggal lagi.”
Perubahan Pola Belajar dan Penguatan Kontrol Guru
Implementasi sistem ini menunjukkan dampak yang signifikan. Siswa atlet mulai mengelola proses belajar secara mandiri, mengakses materi di luar jam sekolah, serta menyelesaikan tugas tepat waktu. Di sisi lain, guru memperoleh kendali yang lebih kuat terhadap pembelajaran melalui data kehadiran digital dan evaluasi berbasis sistem.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media