Internasional . 23/07/2026, 21:05 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah kembali memanas. Jika Amerika Serikat (AS) nekat menyerang fasilitas pembangkit listrik dan jembatan di wilayah Iran, sekutu-sekutu Washington di kawasan Teluk bakal menerima balasan serupa hingga mengalami pemadaman listrik total.
Pesan tegas tersebut datang langsung dari Panglima Angkatan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Seyed Majid Mousavi.
"Jika jembatan-jembatan dan pembangkit-pembangkit listrik kami diserang, terputusnya aliran listrik di negara-negara sekutu (AS) tak akan terhindarkan," kata Mousavi, Rabu, 22 Juli 2026.
Pernyataan keras Mousavi ini terlontar untuk merespons ancaman Presiden AS Donald Trump. Sebelumnya, Trump mengancam akan menghancurkan satu jembatan atau satu pembangkit listrik di tanah Iran untuk setiap kapal yang mendapat serangan dari pihak Iran di Selat Hormuz.
Tidak hanya IRGC, Komando Pusat Khatam Al-Anbiya Iran juga menegaskan kesiapan mereka dalam menghadapi ancaman militer Washington. Pihaknya memperingatkan bahwa jika AS benar-benar menggempur infrastruktur vital Iran, Teheran bakal melancarkan tindakan balasan yang jauh lebih destruktif daripada sekadar memblokade jalur ekspor minyak regional.
Teheran siap menggempur seluruh infrastruktur minyak, gas, sektor ekonomi, hingga jaringan pembangkit listrik di seantero kawasan Timur Tengah.
"Ancaman berulang dari kriminal AS dan militernya hanya akan memperluas perang di kawasan dan lebih luas lagi," kata badan tersebut dalam pernyataan yang disiarkan televisi nasional Iran.
Ketegangan militer antara kedua negara sejatinya sempat mereda. Pada 18 Juni 2026 lalu, Teheran dan Washington sebenarnya telah menandatangani memorandum perdamaian guna menghentikan konflik bersenjata yang membara sejak 28 Februari.
Sayangnya, perdamaian tersebut tidak bertahan lama. Pasukan AS kembali menggempur wilayah Iran mulai 8 Juli. Komando Pusat AS berdalih bahwa operasi militer tersebut merupakan aksi balasan atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz.
Pihak militer Iran tidak tinggal diam. Pasukan Iran langsung merespons serangan tersebut dengan melancarkan serangan balasan yang menyasar sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Menanggapi aksi saling serang yang terus berlanjut ini, Presiden Trump akhirnya menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran resmi tidak berlaku lagi.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media