Nasional . 27/01/2026, 18:05 WIB

AYAH TIDUR, NAK... Tangis Istri PECAH di Makam Praka Marinir Muhammad Kori: Kisah Cinta yang TERENGGUT Longsor Cisarua

Penulis : Rizal Husen  |  Editor : Rizal Husen

Di bawah langit Lampung Timur yang kelabu, Senin, 26 Januari 2026. Sebuah kisah pilu terukir di atas pusara. Di sana, di TPU Dusun 9, Desa Kibang, kecamatan Metro Kibang, seorang istri berdiri terpaku. Mengenakan pakaian serba hitam. Matanya sembab. Tangannya gemetar menggenggam foto seorang lelaki berseragam militer warna biru.

--------------------------------------------------

Ia menunduk perlahan. Mencium foto itu. Seolah enggan melepas kepergian yang begitu tiba-tiba. Seorang anak kecil berpakaian kuning berusia 2,5 tahun menatap tanpa mengerti. Sang ibu membelai kepala buah hatinya itu.

“Ayah tidur, Nak," bisiknya lirih kepada sang anak yang berada dalam pelukannya. 

Kalimat itu sangat sederhana. Namun, bagai sembilu menghunjam jantung. Menjadi saksi bisu betapa berat perpisahan yang harus ditanggung keluarga kecil ini.

Perempuan itu mencoba menutupi kenyataan pahit: sang ayah takkan pernah bangun lagi untuk menggendong si kecil. Momen tersebut juga jadi simbol ketabahan seorang istri prajurit yang suaminya gugur dalam menjalakan tugas negara.

Lelaki dalam foto itu adalah Praka Marinir Muhammad Kori, prajurit TNI AL yang gugur akibat musibah tanah longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, saat latihan pratugas Satgas Pengamanan Perbatasan RI–Papua Nugini.

Ia gugur bukan di medan perang. Melainkan di medan Latihan. Saat negara sedang mempersiapkannya untuk bertugas menjaga batas negeri. Jenazah Praka Kori dimakamkan dengan upacara militer penuh kehormatan.

Rekan-rekan prajurit berdiri tegak. Memberi hormat terakhir. Warga sekitar ikut mengantar. Sebagian menunduk. Sebagian tak kuasa menahan air mata. Hari itu, bukan hanya seorang prajurit dikuburkan. Tetapi juga mimpi, rencana, dan masa depan yang tak sempat dijalani.

Seorang Ibu Kehilangan Sandaran Hidup

Di sudut pemakaman, Samrah, ibu almarhum, duduk dengan mata sembab. Suaranya bergetar. Dia mengenang seorang anak yang selama ini menjadi sandaran keluarga.

“Sedih sekali… begitu dapat kabar, saya semalaman tidak bisa tidur,” ucapnya pelan. 

Tak ada firasat. Tak ada pertanda. Hanya kejadian kecil yang teringat: kejatuhan cicak. Sebuah isyarat yang terlambat disadari.

“Anaknya baik, sayang keluarga. Selalu pamit. Selalu ngabari kalau mau pergi,” tuturnya.

Di balik baret ungu yang ia kenakan dengan gagah, tersimpan cerita perjuangan yang luar biasa. Praka Kori bukan orang yang mendapatkan  segalanya dengan mudah.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com