Nasional . 30/01/2026, 13:57 WIB
Penulis : Gatot Wahyu | Editor : Admin
fin.co.id - Fenomena megatsunami setinggi hampir 200 meter di Greenland bukan lagi sekadar bencana ekstrem di wilayah kutub.
Para ilmuwan memperingatkan, jika peristiwa ini terus berulang akibat krisis iklim, dampaknya bisa merambat ke seluruh dunia—termasuk Indonesia.
Ancaman yang muncul tak hanya berupa gelombang laut raksasa, tetapi juga menyentuh iklim global, ekonomi, hingga ketahanan pangan.
Megatsunami ini dipicu oleh longsor masif di Dickson Fjord, Greenland Timur, ketika sekitar 25 juta meter kubik batu dan es runtuh dari lereng gunung langsung ke laut.
Hantaman tersebut menciptakan gelombang raksasa yang energinya terperangkap di fjord sempit, memicu getaran seismik global selama sembilan hari.
Para peneliti menyebut peristiwa ini sebagai salah satu megatsunami paling ekstrem dalam sejarah modern yang pernah tercatat secara ilmiah, sekaligus sinyal bahaya dari perubahan iklim yang semakin tidak terkendali.
Ilmuwan menegaskan, mencairnya es di wilayah kutub akibat pemanasan global membuat risiko longsor besar semakin tinggi. Jika megatsunami seperti ini terjadi berulang kali, dunia bisa menghadapi sejumlah dampak serius:
Megatsunami di kawasan Arktik berpotensi merusak pelabuhan, fasilitas riset, dan rute pelayaran lintas utara yang kini semakin ramai akibat mencairnya es. Gangguan ini dapat memperlambat distribusi energi, pangan, dan barang industri ke berbagai negara.
Setiap megatsunami besar berpotensi mengganggu stabilitas lapisan es dan arus laut global. Jika terjadi berulang, kondisi ini bisa mempercepat kenaikan muka air laut dunia serta memperburuk anomali iklim di kawasan tropis dan subtropis.
Meski terjadi di fjord sempit, energi megatsunami yang dilepaskan secara terus-menerus dikhawatirkan memicu ketidakstabilan geologis di wilayah pesisir lain, meningkatkan risiko tsunami dan bencana laut di berbagai belahan dunia.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media