Internasional . 30/01/2026, 09:10 WIB

PERANG NUKLIR DI DEPAN MATA! Iran-AS Memanas, Menlu Araghchi Buru-Buru Terbang ke Turki Demi Hindari Kiamat Militer!

Penulis : Afdal Namakule  |  Editor : Afdal Namakule

fin.co.id - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat benar-benar berada di titik didih yang sangat mengkhawatirkan. Di tengah ancaman serangan militer besar-besaran yang ditiupkan dari Washington, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan melakukan kunjungan darurat ke Ankara pada Jumat ini untuk membuka jalur pembicaraan yang diharapkan mampu meredam eskalasi konflik sebelum terlambat.

Kunjungan tersebut berlangsung saat diplomasi internasional berada dalam kondisi mendesak. Turki kini berupaya memainkan peran sebagai mediator utama dengan mendorong Teheran agar bersedia memberikan konsesi terkait program nuklirnya demi menghindari konflik yang berpotensi menghancurkan seluruh kawasan.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan bahkan mengusulkan pertemuan tingkat tinggi melalui konferensi video antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Namun, langkah diplomasi berisiko tinggi itu dinilai sulit diterima kalangan diplomat Iran yang cenderung sangat berhati-hati, mengingat tidak adanya pembicaraan langsung formal antara kedua negara dalam satu dekade terakhir.

Situasi semakin rumit dengan hadirnya pejabat senior pertahanan dan intelijen Israel serta Arab Saudi di Washington untuk membahas nasib Iran. Laporan Axios pada Kamis menyebutkan, pertemuan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembicaraan intensif terkait langkah militer dan strategis AS ke depan.

Dari Washington, nada keras yang menggetarkan kembali terdengar. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa Pentagon sudah siap menjalankan instruksi militer apa pun dari Presiden Trump.

“Mereka memiliki semua opsi untuk membuat kesepakatan. Mereka seharusnya tidak mengejar kemampuan nuklir. Dan kami akan siap untuk melaksanakan apa pun yang diharapkan presiden ini,” ujar Hegseth dalam rapat kabinet, Kamis kemarin.

Trump sendiri sebelumnya memperingatkan bahwa waktu bagi Iran hampir habis dan bersumpah bahwa setiap serangan AS akan berskala luas dan sangat keras. Meski demikian, dalam pidatonya di Kennedy Center pada Kamis malam, Trump sempat menunjukkan nada yang sedikit lebih lunak dengan menyatakan keinginannya untuk berbicara dengan Iran.

“Saat ini kita memiliki banyak sekali kapal yang sangat besar dan sangat kuat yang berlayar ke Iran, dan akan lebih baik jika kita tidak perlu menggunakannya,” kata Trump.

Namun, sikap Teheran tetap menantang dan tidak gentar. Kepala angkatan darat Iran, Mayjen Amir Hatami, mengumumkan bahwa sejak perang 12 hari pada Juni lalu, Iran telah merevisi total taktik militernya dan membangun sekitar 1.000 drone canggih berbasis laut dan darat.

Ia menegaskan, persenjataan drone dan rudal balistik Iran mampu memberikan respons yang menghancurkan terhadap serangan apa pun, meski ia mengakui pertahanan udara masih menjadi titik lemah utama mereka.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut sekitar 30.000 personel militer AS kini berada “dalam jangkauan ribuan UAV satu arah Iran dan rudal balistik jarak pendek Iran”. Seorang pejabat senior Iran kepada Reuters secara blak-blakan menyatakan bahwa negaranya “sedang mempersiapkan diri untuk konfrontasi militer, sambil tetap memanfaatkan jalur diplomatik”.

Di tengah ketegangan global ini, Kremlin menyerukan kedua pihak untuk menyadari bahwa masih ada sedikit ruang bagi diplomasi. Namun, Turki dinilai paling aktif mengambil peran penengah, saat Timur Tengah diliputi kecemasan hebat akan konflik yang berpotensi menyebar dan membakar seluruh kawasan.

Di dalam negeri Iran sendiri, situasi politik kian terpolarisasi. Suara-suara yang mendorong pemerintah untuk berkompromi semakin teredam, sementara sebagian kelompok menuntut perlawanan terbuka habis-habisan terhadap AS dan kelompok lain justru mendorong kejatuhan rezim.

Presiden Pezeshkian berupaya meredakan luka sosial dengan mengakui kemarahan publik atas penindasan demonstrasi dan berjanji akan mempublikasikan daftar korban tewas bersama keluarga yang ditinggalkan. Namun, tingginya ketidakpercayaan publik membuat upaya ini diragukan banyak pihak.

Di sisi lain, tujuan akhir Trump terhadap Iran masih dinilai ambigu. Ia sempat mengklaim akan menyerang demi membela demonstran, namun kemudian mengaitkan ancamannya dengan program nuklir Iran.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com