Internasional . 30/01/2026, 09:10 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
Trump juga mengklaim telah menghancurkan program nuklir Iran dalam perang 12 hari pada Juni, meski penilaian intelijen AS menyebut dampaknya tidak sebesar klaim bombastis tersebut.
Rubio, dalam pidatonya di hadapan Kongres pada Rabu, bersikap lebih hati-hati. Ia menegaskan bahwa perubahan rezim bukan perkara sederhana dan membutuhkan pertimbangan matang yang mendalam.
Menjelang kunjungan krusial Araghchi, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei memastikan Iran tetap berkomitmen memperkuat hubungan dengan negara tetangga.
“Republik Islam Iran bertekad untuk terus memperkuat hubungan dengan negara-negara tetangganya berdasarkan kebijakan bertetangga baik dan kepentingan bersama,” ujarnya.
Sementara itu, pejabat AS menegaskan Iran telah memahami tuntutan keras Washington, mulai dari penyerahan cadangan uranium yang sangat diperkaya, penghentian total pengayaan uranium dalam negeri, pembatasan ketat program rudal, hingga penghentian dukungan terhadap kelompok proksi—empat syarat "haram" yang dinilai sangat sulit diterima Teheran.
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menegaskan bahwa menyerang Iran adalah langkah yang salah besar. Ia menyatakan Iran sebenarnya siap bernegosiasi soal nuklir, meski menghadapi tantangan raksasa di meja perundingan.
Fidan juga menilai Iran perlu membangun kembali kepercayaan di kawasan dan memperhatikan bagaimana negara-negara Timur Tengah memandangnya.
Di tengah ancaman pembalasan Iran yang mengerikan, sebagian besar negara Teluk secara tegas menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah udara maupun teritorial mereka digunakan untuk menyerang Iran. Hal ini menegaskan betapa hati-hatinya kawasan dalam menghadapi potensi pecahnya konflik besar yang bisa mengubah peta dunia.
Source: Theguardian
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media