Nasional . 31/01/2026, 22:55 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Fin.co.id - Hingga kini, belasan prajurit Marinir masih belum kembali. Mereka bukan hilang dalam pertempuran. Bukan gugur oleh peluru musuh. Mereka tertimbun tanah, batu, dan lumpur saat menjalankan latihan pra-tugas negara.
Peristiwa memilukan itu terjadi di Desa Soreang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Sabtu (24/1). Sebanyak 23 prajurit Marinir menjadi korban saat longsor besar disertai banjir bandang menerjang lokasi latihan.
Pertanyaan publik pun bermunculan: Bagaimana mungkin prajurit terlatih bisa menjadi korban sedemikian cepat? Jawabannya ada pada alam, posisi medan, dan waktu kejadian.
Puluhan prajurit tersebut berasal dari Batalyon Infanteri 9 Marinir dan Brigif 4 Marinir/Beruang Sakti. Mereka tengah menjalani latihan pratugas sebagai bagian dari persiapan pengamanan perbatasan RI–Papua Nugini.
Latihan dilakukan di alam terbuka. Medan dirancang untuk membentuk ketahanan fisik dan mental para prajurit Beruang Hitam. Namun, alam menunjukkan sisi paling kejamnya.
Saat kejadian, para prajurit berada di kaki bukit atau area yang lebih rendah. Lokasi tersebut lazim digunakan sebagai titik kumpul sementara (bivak) dalam latihan lapangan.
Tanpa disadari, posisi itu justru menjadi zona paling berbahaya ketika lereng di atasnya kehilangan kestabilan. Mereka tidak sedang bergerak. Tidak sedang mendaki. Melainkan berada di area yang dianggap relatif aman. Hingga alam berkata sebaliknya.
Penyebab utama longsor bukan satu faktor Tunggal. Melainkan akumulasi hujan deras selama beberapa hari. Curah hujan ekstrem membuat tanah di lereng atas menjadi jenuh air.
Akibatnya: struktur tanah melemah, akar pohon kehilangan fungsi penahan dan bebatuan ikut terlepas dari lereng. Dalam kondisi ini, satu tekanan kecil saja cukup memicu longsor besar.
Peristiwa terjadi sangat cepat. Hanya hitungan detik. Ini bukan tanah amblas dari bawah, melainkan dinding tebing di atas lokasi latihan runtuh secara tiba-tiba.
Material longsor berupa: Tanah basah, Batu besar, Lumpur bercampur air. Meluncur deras ke bawah seperti gelombang raksasa. Langsung menyapu area tempat para prajurit marinir berada.
Mengapa mereka tak sempat menyelamatkan diri? Pertanyaan ini paling sering muncul di media sosial. Faktanya, ada beberapa kondisi krusial:
Dalam situasi seperti itu, tidak ada waktu untuk berlari. Bahkan bagi prajurit terlatih sekalipun. Mereka tidak kalah oleh musuh. Tetapi oleh kekuatan alam yang datang tanpa aba-aba.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media