Kesehatan . 01/02/2026, 18:08 WIB

BRIN Ungkap Fakta Mengerikan: Virus Nipah Ditemukan di Air Liur Kelelawar dari Sumatera hingga Jawa

Penulis : Mihardi  |  Editor : Mihardi

fin.co.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap temuan serius terkait keberadaan Virus Nipah yang ternyata telah menyebar luas pada populasi satwa liar di sejumlah wilayah Indonesia.

Hasil riset menunjukkan virus berbahaya tersebut teridentifikasi pada sampel kelelawar yang berasal dari Sumatera, Kalimantan, hingga Pulau Jawa, menandakan potensi ancaman kesehatan yang tidak bisa dianggap remeh.

Ahli Utama Virologi sekaligus Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Niluh Putu Indi Dharmayanti, menjelaskan bahwa temuan ini didukung oleh data ilmiah yang kuat dan konsisten.

Di Kalimantan Barat, misalnya, kajian serologis menemukan antibodi Virus Nipah pada sekitar 19 persen sampel serum kelelawar jenis Pteropus vampyrus.

"Deteksi molekuler melalui metode PCR pada sampel saliva (air liur) dan urine kelelawar di Sumatera Utara juga mengonfirmasi keberadaan genom virus ini," ungkap Indi dalam keterangan resminya, Minggu, 1 Februari 2026.

Tak hanya itu, hasil riset lanjutan juga menemukan virus serupa pada spesies Pteropus hypomelanus yang hidup di wilayah Jawa.

Analisis genetik menunjukkan bahwa virus tersebut memiliki kedekatan erat dengan strain yang sebelumnya memicu wabah di Malaysia serta beberapa negara Asia Tenggara lainnya.

Indi mengingatkan bahwa kondisi ekologis Indonesia saat ini berada pada situasi yang rawan. Keanekaragaman spesies kelelawar yang hidup berdekatan dengan aktivitas manusia berpotensi menjadi pemicu terjadinya penularan lintas spesies atau spillover.

"Interaksi intens antara manusia, hewan, dan lingkungan adalah kunci munculnya penyakit zoonotik seperti Nipah," tutur Indi.

Peringatan ini dinilai krusial, mengingat hingga kini dunia medis belum memiliki vaksin maupun obat antivirus khusus untuk menangani Virus Nipah. Penanganan pasien masih terbatas pada perawatan suportif guna mempertahankan kondisi tubuh.

Untuk mengantisipasi risiko yang lebih besar, BRIN mendorong penguatan sistem surveilans aktif, baik pada satwa liar maupun hewan ternak.

Langkah deteksi dini disebut sebagai strategi utama untuk mencegah meluasnya penularan ke manusia.

Namun, tantangan di lapangan masih besar, salah satunya rendahnya pemahaman masyarakat mengenai bahaya interaksi langsung dengan kelelawar.

Oleh karena itu, edukasi publik terkait keamanan pangan dan risiko penyakit zoonosis perlu diperkuat agar masyarakat lebih waspada terhadap ancaman yang ada di sekitar mereka.

"Penguatan riset dan kesiapsiagaan adalah kunci agar Indonesia mampu menghadapi potensi ancaman Nipah secara lebih siap dan terukur," tutup Indi.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com