Internasional . 03/02/2026, 07:59 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
Nama lain yang paling banyak disorot adalah Prince Andrew, Duke of York. Anggota keluarga kerajaan Inggris tersebut pernah terlibat sengketa hukum dengan salah satu korban Epstein dan namanya kerap muncul dalam berbagai publikasi terkait kasus ini.
Selain itu, Peter Mandelson, seorang politikus Inggris, juga tercatat memiliki hubungan sosial dengan Epstein yang kemudian memicu sorotan publik hingga berdampak pada posisinya dalam dunia diplomatik.
Jaringan Epstein juga merambah dunia teknologi dan bisnis global. Dokumen yang dibuka ke publik menunjukkan bahwa Elon Musk pernah bertukar email dengan Epstein mengenai kemungkinan kunjungan ke pulau pribadinya, meskipun rencana tersebut disebut tidak pernah terealisasi.
Reid Hoffman, pendiri LinkedIn, juga disebut dalam komunikasi Epstein terkait kunjungan dan pertemuan sosial.
Selain itu, Epstein diketahui memiliki hubungan bisnis dan administratif dengan Leslie Wexner, pendiri L Brands, sebelum tahun 2007.
Hubungan ini menjadi salah satu aspek penting yang kerap disorot karena berkaitan dengan akses Epstein terhadap kekayaan dan jaringan kelas atas. Nama Glenn Dubin, seorang manajer hedge fund miliarder, juga tercatat memiliki hubungan sosial dengan Epstein dalam berbagai dokumen.
Tak hanya di Amerika dan Inggris, dokumen Epstein turut memunculkan nama dari kalangan keluarga kerajaan dan elit internasional lainnya. Putri Mahkota Norwegia, Mette-Marit, tercatat pernah berkorespondensi melalui email dengan Epstein dan kemudian secara terbuka menyampaikan penyesalan atas kontak tersebut.
Selain itu, sejumlah tokoh Norwegia lain, termasuk mantan perdana menteri dan diplomat, juga disebut dalam dokumen yang dirilis, memicu perhatian luas di negara tersebut.
Meski demikian, para ahli hukum dan pengamat menegaskan bahwa kemunculan nama-nama tersebut dalam dokumen tidak dapat dijadikan bukti keterlibatan dalam tindak pidana Epstein.
Sebagian besar hubungan yang tercatat berupa kontak sosial, undangan acara, korespondensi, atau pertemuan profesional yang tidak terbukti berkaitan langsung dengan kejahatan perdagangan seks atau eksploitasi seksual.
Rilis dokumen ini justru memperlihatkan bagaimana Epstein mampu menempatkan dirinya di lingkaran kekuasaan dan pengaruh global selama bertahun-tahun. Fakta tersebut sekaligus memperkuat kritik publik terhadap sistem sosial dan hukum yang memungkinkan seorang pelaku kejahatan membangun jejaring luas tanpa pengawasan yang memadai.
Bagi para korban, pembukaan dokumen-dokumen ini dipandang sebagai langkah awal menuju transparansi dan akuntabilitas. Sementara bagi publik, jaringan Epstein menjadi cermin tentang kompleksitas relasi antara kekuasaan, pengaruh, dan keadilan yang hingga kini masih terus diperdebatkan. *
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media