Megapolitan . 03/02/2026, 20:13 WIB
Penulis : Rikhi Ferdian Herisetiana | Editor : Rikhi Ferdian Herisetiana
fin.co.id - Sedikitnya lima kepala keluarga (KK) terdampak musibah tanah amblas di Kampung Cipayaeun, Desa Tegalsari, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Pemantauan terbaru menunjukkan retakan tanah telah meluas hingga mencapai panjang 85 meter, dengan kondisi stabilitas tanah yang terus menurun.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tangerang Soma Atmaja bersama jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Tata Ruang dan Bangunan (DTRB), serta Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) telah melakukan tinjauan langsung lokasi terdampak di RT 11/RW 03 pada Minggu (1/2/2026) lalu.
Camat Tigaraksa Cucu Abdurrosyied mengungkapkan, kondisi lapangan jauh lebih parah dibandingkan awal pekan lalu. "Berdasarkan pantauan terbaru, retakan tanah mengalami perluasan yang signifikan. Kini diperkirakan mencapai panjang 82 hingga 85 meter," katanya saat memberikan keterangan, dikutip, Selasa, 3 Februari 2026.
Dari lima KK terdampak, dua keluarga telah mengungsi ke tempat kerabat atau menyewa kontrakan sementara demi menjamin keamanan diri dan keluarga. Sementara itu, tiga keluarga lainnya masih tinggal di rumah meskipun bagian dapur sudah mengalami kerusakan.
Pemerintah setempat telah mengeluarkan instruksi pengosongan segera hunian yang berada di posisi paling bawah. "Curah hujan yang tinggi saat ini mempercepat laju keretakan tanah. Risiko bangunan permanen roboh akibat pergeseran susulan sangat tinggi," tegas Cucu.
BRIN Akan Lakukan Kajian Geologi Mendalam
Pemerintah Kabupaten Tangerang belum dapat memastikan penyebab pasti terjadinya tanah amblas dan enggan melakukan spekulasi. Sebagai langkah strategis, pihaknya akan melakukan kajian teknis mendalam dengan melibatkan pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
"Sesuai arahan Bapak Sekda, kami berkoordinasi dengan BRIN dan BPBD Provinsi untuk melakukan kajian geologi. Kami memerlukan dasar keilmuan yang tepat untuk memetakan kontur tanah dan menentukan langkah penanganan selanjutnya," jelasnya.
Selain menangani kasus di Cipayaeun, pemerintah daerah juga meningkatkan pemantauan real-time di beberapa titik rawan bencana lainnya seperti Cisereh, Pasir Bolang, dan Mustika. Warga diimbau untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan, terutama saat intensitas hujan tinggi atau adanya aliran debit air dari hulu.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media