Kesehatan . 06/02/2026, 22:45 WIB

Dosen Mikrobiologi FKH UGM: Virus Nipah Bersifat Musiman

Penulis : Esnoe Faqih Wardhana  |  Editor : Esnoe Faqih Wardhana

fin.co.id - Meski dipastikan belum masuk ke Indonesia, namun merebaknya virus Nipah di India telah memicu kekhawatiran di banyak negara, termasuk Indonesia.

Virus Nipah adalah virus yang ditularkan melalui kelelawar buah. Infeksi virus Nipah umumnya ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui hewan perantara yang terinfeksi, seperti babi dan kuda.

Penyakit ini juga dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak erat dengan penderita. Penyakit ini dianggap berbahaya karena dapat menyebabkan penyakit berat pada manusia, mulai dari radang otak hingga gangguan pernapasan serius.

Menanggapi soal mewabahnya zoonosis penyakit nipah, dosen mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, drh. M. Th. Khrisdiana Putri, M.P., Ph.D., menyampaikan bahwa penyebaran virus Nipah pada hewan seperti babi dan kuda kerap menunjukkan gejala pernapasan hingga gangguan saraf, bahkan dapat berujung fatal.

“Kalau pada manusia, dampaknya memang lebih fatal karena biasanya kematian terjadi akibat ensefalitis atau radang otak,” jelas Khrisdiana, Jumat, 6 Februari 2026.

Ia menjelaskan, virus Nipah bersifat musiman (seasonal). Menurutnya, kondisi ini juga dipengaruhi oleh faktor stres atau kelaparan pada kelelawar.

Ia mencontohkan ketika sumber pakan alami, seperti nira di habitat hutan, berkurang, maka risiko penularan dapat meningkat karena virus menjadi lebih aktif.

Pemerintah Telah Melakukan Langkah Pencegahan

Khrisdiana juga menegaskan, pemerintah telah melakukan langkah pengamanan melalui regulasi, salah satunya dengan melarang peternakan babi berada dekat dengan perkebunan nira.

Menurutnya, kebijakan ini menjadi langkah awal dalam pencegahan. “Dengan adanya peraturan tersebut, penataan peternakan diharapkan dapat lebih mendukung pencegahan penularan dari kelelawar ke babi,” pungkasnya.

Selain itu, ia juga menyoroti kebiasaan konsumsi nira segar yang diminum langsung tanpa proses pengolahan. Menurutnya, nira sebaiknya melalui perlakuan terlebih dahulu, seperti pasteurisasi atau pemanasan, dan tidak dikonsumsi secara langsung.

“Di sektor peternakan, kesadaran menjaga jarak kandang dari kebun nira serta penerapan desinfeksi kandang menjadi hal penting,” ujarnya.

Khrisdiana menyebutkan bahwa virus Nipah tergolong lemah atau mudah rusak di lingkungan. Virus ini tidak mampu bertahan lama di luar inang sehingga penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi langkah pencegahan yang efektif.

“Menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan, mengganti pakaian setelah beraktivitas di luar, dan menjaga keseimbangan dengan alam adalah hal yang tidak bisa diabaikan. Pada akhirnya, dampaknya akan kembali kepada manusia sendiri,” tutupnya.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com