Nasional . 07/02/2026, 23:14 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Setelah lama dinantikan, Amorphophallus titanum atau yang dikenal sebagai bunga bangkai raksasa akhirnya mekar di Kebun Raya Bogor. Hal ini tentu saja membuat masyarakat penasaran dan ingin melihat langsung mekarnya bunga langka ini.
Cantiknya bunga bangkai raksasa mengundang decak kagum para pengunjung, bahkan banyak yang mengabadikan foto bersama titan arum ini.
Amorphophallus titanum yang melegenda ini memasuki fase awal menuju mekar di area koleksi bunga bangkai, tepatnya di tebingan Mata Air Kahuripan, pada Minggu, 25 Januari 2026.
Lalu, pada Kamis, 5 Februari 2026, bunga ini mulai menampakkan kecantikannya yang kemudian mekar sempurna saat malam hari.
“Pada Kamis, 5 Februari 2026, bunga bangkai mencapai fase mekar penuh. Tongkol menjulang hingga 140 cm, dengan diameter bunga mencapai 56 cm. Tepat pukul 00.24 WIB, seludang bunga terbuka sempurna, menandai klimaks dari peristiwa langka yang hanya berlangsung singkat,” kata Horticulture Senior Manager PT Mitra Natura Raya, Pengelola Kebun Raya Bogor, Yudhistira.
Ia menjelaskan, mekarnya bunga bangkai raksasa bukan sekadar peristiwa botani, melainkan pengingat akan keajaiban siklus alam dan pentingnya upaya konservasi tumbuhan langka. “Setiap mekarnya adalah pesan sunyi dari hutan hujan,” ujarnya.
Tumbuhan ini merupakan salah satu koleksi Kebun Raya Bogor yang ditanam pada 11 September 1992, dengan bibit yang berasal dari Jambi, Sumatra.
Masyarakat diimbau melihat langsung mekarnya bunga ini. Bunga nomor koleksi VI.C.489 terakhir mekar tahun 2020 di Kebun Raya Bogor.
Saat ini, nomor koleksi 382-lah yang sedang mekar, setelah penantian 12 tahun. Siklus hidupnya unik, memiliki fase vegetatif dan generatif diselingi fase dorman (istirahat).
“Masyarakat dapat melihat perbedaan dengan bunga bangkai lainnya seperti suweg (Amorphophallus paeniifolius) dan Rafflesia arnoldii atau Rafflesia hasseltii. Meskipun sebutannya bunga bangkai raksasa, namun sebenarnya bunga jantan dan betinanya hanya kecil-kecil mengelompok saja di bagian bawah spadiksnya yang menjulang tinggi,” kata Peneliti Ahli Madya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang meneliti bunga bangkai raksasa ini, Dian Latifah.
Ia menambahkan penyerbukannya dibantu serangga penyerbuk yang di alam harus terbang jauh berpuluh-puluh kilometer membawa serbuk sari dari bunga lain yang mekar bersamaan untuk menjadi buah dan biji.
“Sedangkan di Kebun Raya harus dibantu manusia (hand pollination). Bunga jantan dan betinanya tidak masak bersamaan,” tambahnya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media